Rabu, 18 April 2012

R A S T R I

     Puji Tuhan....akhirnya aku sampai di depan rumah peninggalan orang tuaku. Pk.8 pagi aku sudah sampai di Jogja setelah menempuh 3 jam perjalanan dari rumahku. Kumatikan mesin dan ku buka pintu mobilku. Tiba tiba kudengar suara nyaring..melengking...:" aloooo.....aloooo....aloooo...." Aku menoleh kucari arah suara tadi. Aku tersenyum mendapatkan wajah mungil melongok keluar jendela dari rumah tetangga depan rumahku..." aloooo jugaaaaa..... dah mandi belum?? tanyaku" udah." "..udah maem juga' bibir mungil itu menjawab... "Bentar ya....budhe naruh tas dulu...Rastri aja yang main tempat budhe " jawabku sambil mengangkat tas dan masuk ke dalam rumah.

      Masuk rumah, kerinduan menyergapku. Dulu semasa bapak masih hidup, selalu menyapaku: "sama siapa nduk?? Dari Semarang jam berapa??.... Aku termangu di pintu kamar Bapak (alm)... kuhela nafas panjang< masih hangat dalam ingatan saat saat terakhir bersamanya...seratus hari yang lalu serasa baru kemarin... Seketika lamunanku buyar tatkala tangan kecil memegang jariku. Kutatap wajah polos di sampingku...aku tersenyum menatapnya..." Budhe nangis ya?? inget eyang ya??" ku gelengkan kepala sambil berusaha menahan agar airmataku tidak menetes.

      Kuraih tubuh mungil itu, ku gendong ke ruang tamu, dan kupangku dia. Tiap aku menatap wajah itu, aku makin sayang sama dia. RASTRI. Anak yang waktu dalam kandungan tumbuh bersama dengan tumor. Rastir lahir dengan normal dan selamat atas Kebesaran Tuhan.
 
     Setyowati, ibunya, saat mengetahui dirinya terlambat bulan dia memeriksakan diri ke dokter. Hasil lab sungguh mengejutkan, karena selain dia diketahui positif hamil, dalam kandungannya juga ditemukan tumor. Dokter menyarankan agar kandungannya digugurkan saja, daripada nyawanya terancam, dan si calon bayi juga ada kemungkinan cacat.
 
     Sasongko, suaminya menolak dengan tegas saran dari dokter. Sasongko sosok lelaki yang sungguh sungguh menjalankan amanah sebagai bapak yang mengimami keluarga. Dia yakin dengan keputusannya, meski dia tau segala resiko dari keputusannya itu. Setyowati tetap meneruskan mengandung anak ke duanya itu, bersama tumor. Sungguh besar perjuangannya, deritanya tak terungkap kata apa yang dirasakan selama mengandung. Sasongko selalu membesarkan hati istrinya, dan meyakinkannya, bahwa Tuhan pasti akan menjaga dia dan bayi yang dikandungnya. Mereka tak hentinya berdoa, Sholat lima waktu dan tahajud tak pernah lupa. Tak terasa kandungan Setyowati sudah 9 bulan. Dokter menyarankan agar persalinan dilakukan dengan bedah caesar. Kali ini demi keselamatn istri dan bayinya, Sasongko menyetujui saran dokter. Sasongko pasrah...dalam kepasrahannya, dia berdoa dan doanya dikabulkan, anaknya lahir secara normal sebelum operasi dilakukan. Bayi permpuan itu lahir dengan tubuh sempurna, lengkap tak bercacat, wajahnya manis.
     "Budhe..budhe..aku mau minum jeruk" suara Rastri manja. Aku sudah tau apa maksud permintaannya tadi. "hayuuukk"" jawabku sambil kutuntun dia ku ajak kel;uar rumah... Aku antar dia ke rumahnya untuk minta ijin pada ibunya. Segera kuajak Rastri ke Minimarket yang ada. Rastri anak mungil yang manis, tidak nakal, dan keinginannya tidak neko neko. Sampai minimarket, dia hanya mengambil minumal jus jeruk kemasan yang dia suka. Kutawarkan berbagai jajanan kesukaan anak anak pada umumnya, tapi dia menggeleng. Selalu begitu. Kalau aku berhasil membujuk untuk memilih jajanan lain, hanya ice cream, yang lainnya tidak. Aku kagum dengan sikapnya itu. Seorang bocah umur 3 tahun, tapi sudah punya prinsip yang kuat. Meski disodorkan hal hal yang menggiurkan, dia bergeming, tetap pada pendiriannya. Semoga kamu kelak tetap jadi wanita yang punya pendirian teguh ucapku dalam hati.
   
     Bila kuingat keluarga kecil itu, selalu membuatku merenung...Masih adakah Sasongko,Setyowati dan Rastri yang lain saat ini?? Berkeyakinan kuat akan campurtangan Tuhan dalam setiap permasalahan hidup?? Bertekun dalam doa?? Yang sabar dalam kesusahan ??Yang teguh dalam pendirian akan kebenaran???

       Namun apa yang aku saksikan di jaman sekarang, membuat aku menarik nafas yang panjang. Begitu banyaknya orang orang yang menghalalkan segala cara untuk mengejar ambisinya. Main hakim sendiri, cari keuntungan diri.tidak rela melihat orang lain melebihi dirinya...Serakah.!!Yang lebih parah lagi, banyak yang "Jarkoni"( isa ujar ora nglakoni.) Bahkan apa yang terucap tidak sama denga isi hati yang sesungguhnya. Musang berbulu domba dll. Kejujuran sudah jadi hal yang langka.

     Semoga sifat Sasongko,Setyowati dan Rastri masih ada di hati setiap insan. Berserah dalam keyakinan pada Tuhan, dalam kepasrahan yang berpengharapan. Hidup seturut kehendak Nya. Semoga.
 

Senin, 16 Januari 2012

KUPEGANG PESAN ITU

     Suatu senja di suatu hari di akhir Juli 2003,  kau duduk memandang jauh....mungkin kau mengenangkan kembali saat saat manis dan pahit hidup bersamanya.... Dia yang telah lebih dari 50 tahun mendampingimu...melahirkan kami, anak anakmu..." hayooo...bapak melamun ya??" kau hanya menjawab dengan senyuman....kulihat guratan sedih di dahimu yang sudah keriput oleh waktu.
     Tiba -tiba seekor tekukur hinggap di pundakmu. Tekukur tak hendak pergi walaupun kau berusaha menghalaunya.. Tekukur jadi teman yang setia menghibur dengan nyanyiannya tiap kali kami sowan padamu. Hari berganti minggu...minggu berganti bulan, dan tahun... Dalam kesendirian kau jalani hari demi hari, karena kau ,memilih tinggal sendiri di rumah yang penuh kenangan bersamanya. Tubuhmu semakin tua dan renta. kami putra putrimu ingin sekali engkau tinggal bersama kami, tapi kau memilih tetap tinggal di rumah yang telah mengukir lembaran hidupmu dengan lukisan kenangan penuh warna. 
     Tiap kami pulang menengokmu, selalu saja ada cerita darimu..cerita tentang kebijaksanaan, tentang kemurahan hati, tentang segala hal yang kau alami juga tentang orang orang yang sering menemanimu. tak pernah terucap keluhan darimu...bahkan saat pandanganmu mulai kabur karena katarak,kau tak mengeluh... 
     Suatu hari ku pulang menengok bapak...."nduk, kemarin bapak dapat kiriman rantang dari budemu, ada gorengan yang bapak sisihkan, pikir bapak bisa untuk makan sore, bapak pikir itu empal goreng, tp waktu bapak makan, ternyata ubi goremg...oalaahhh..mata kalau sdh tua .."" bapak bercerita sambil terkekeh ingat kejadian kemarin.. Aku ikut tersenyum, tapi hatiku berdesir...aku tau bapak butuh operasi katarak, tapi saat itu aku belum bisa berbuat apa apa. Tapi aku mulai memikirkannya.
     Minggu berikutnya saat aku pulang, bapak bercerita lagi....masih tentang matanya.... "bapak kemarin marah marah sendiri...bapak jengkel dengan diri sendiri!! kenapa mau makan saja kok gak bisa nyendok nasi dari piring?? tapi setelah sendok tak balik, bapak jadi tertawa sendiri sampai keluar air mata setelah bapak tau, kalau bapak nyendok nasinya pake punggung sendok!!hahaha" ....kali ini aku ikut tertawa... Aku matur bapak.. "Bapak kersa operasi katarak??" bapak bersedia.. Akhirnya bapak menjalani operasi katarak didampingi kakakku. Bapak begitu bahagia, senang dapat memandang anak cucunya dengan jelas saat kami pulang mengunjungi beliau.
     " Lho...bapak kok merokok lagi??" tanyaku kaget saat aku pulang, ketemui bapak sedang merokok, padahal sudah beberapa waktu tidak merokok...." lha bapak pikir, dapur itu tempat api, atapnya kena asap terus, tapi malah gak gampang lapuk !"....jawab bapakku sambil tersenyum...ahhh, bapak, selalu saja menghadapi segala sesuatu dengan canda....
    Banyak kenangan lucu bersamamu bapak...tapi semua itu tinggal kenangan. Awal Nopember 2011 ku dapat telp dari Arif anak yu Poni yang ngabdi bapak, bahwa bapak sakit. Segera aku pulang, kubawa bapakku ke RS.Bapak menjalani rawat inap 8 hari... tapi awal Desember anfal lagi, dan menjalani rawat inap di rumah sakit. Saat sakit, bapak sering bilang bahwa almahumah ibu sudah menjemputnya..... tapi bapak punya suatu harapan. Bapak mengharapkan, kelak aku mau tinggal di rumah dulu aku dibesarkan... Aku tidak mau mengecewakan bapak, kuturuti dan kuwujudkan harapan bapak padaku. Saat bapak melihat, bahwa aku sedang mewujudkan harapannya, beliau terlihat bahagia.... " bapak sekarang sudah lega..sudah tidak ada beban, sekarang tinggal nunggu saatnya saja'....hatiku tercekat mendengar perkataannya..inikah saat saat terakhir kami bersama di dunia ini??..." Semua Tuhan yang mengatur pak" jawabku sambil kupalingkan wajah agar air mataku tidak tumpah...
     Rabu. 28 Desember 2011 pagi...dalam tidur bapak sebut sebut namaku 3 kali...kujawab dan kubisikkan, bahwa aku selalu disisinya, menungguinya... bapak kembali tenang, tapi hari itu bapak sudah tidak mau diajak komunikasi. Malam hari, bapak mendatangiku dalam mimpi, "nduk, kalau kamu ada apa apa, kamu matur bapak saja!!.pokoknya, kalau ada apa-apa bilang saja sama bapak!!"..aku terbangun...pesan itu terngiang jelas ditelingaku...aku berdoa, bersyukur aku boleh mendapatkan pesan dari bapak..aku dapat firasat, bapak akan meninggalkan aku untuk selamanya. Jumat, 30 Desember 2011, pukul 12.30 bapak meninggalkan kami untuk selamanya, bersama ibu yang menjemputnya kembali kepada Tuhan. Selamat jalan Bapak, terimakasih telah menjadi bapak yang baik bagi kami, terimakasih kau tetap menjadi pelindungku untuk selamanya, sesuai pesanmu.. aku akan tetap pegang pesanmu dan aku akan berusaha untuk memenuhi harapanmu padaku. Tuhan, ampuni dosa bapakku dan ibuku yang telah kembali kepadaMu.. berikanlah kebahagiaan kekal bagi mereka. Amin.
     Ada hal yang menyentuh hati kami...bersamaan dengan kepulangan bapakku kembali padaNYA, burung tekukur yang dulu hinggap dipundak bapak, yang setia menemani 9 tahun lebih, pada waktu dan hari yang sama ikut mati tanpa sebab. Sungguh sebuah pembelajaran indah tentang sebuah kesetiaan. 

Senin, 05 Desember 2011

METAMORFOSE

                                                                 METAMORFOSIS
          " Ma....binatang yang bisa berubah bentuk itu apa sich...???" tanya Beny pada mamanya saat dia belajar IPA untuk menghadapi ulangan umum sekolahnya. " itu kupu-kupu sayang" Lanny menjawab pertanyaan putranya. Lanny mengajak putranya ke halaman rumah yg ditanami tanaman hias aneka jenis dan warnanya. " kamu lihat ulat itu" seraya menunjuk seekor ulat yang asyik memakan daun..."ulat itu akan makan daun sampai kenyang, kemudian dia akan diam bertapa....selama bertapa, dia tdk makan apapun dan diam tidak bergerak sama sekali....tubuhnya terbungkus berbentuk kepompong".... Lanny menunjukkan kepompong yang menggantung diujung sebuah ranting kecil.... Beny sangat antusias mendengarkan penjelasan ibunya...dan memperhatikan ulat dan kepompong yang ditujnjukkan ibunya...." setelah bertapa beberapa hari, kepompong itu akan berubah bentuk...menjadi kupu kupu yang indah..." kata Lanny seraya menggandeng tangan putranya kembali ke dalam rumah...
            Manusia diberi kesempatan hidup di dunia karena manusia diberi kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Semua di dunia diberikan untuk manusia agar memuliakan Dia Sang Pemberi Kehidupan....Manusia hidup memerlukan pangan ,sandang, papan dan lainnya. Manusia bekerja untuk memenuhi segala kebutuhannya.... Tapi manusia harus mengerti apa tujuan hidupnya.... Seperti ulat yang bijak tau, dia harus makan supaya cukup bekal untuk bertapa jadi kepompong agar bisa menjadi kupu-kupu yang indah.... Ulat yang bijak hanya akan makan se"cukup"nya saja...jika ulat terlalu banyak makan, badannya akan terlalu gendut, dan itu akan membuatnya mudah jatuh dari atas daun, dan terinjak...atau jadi santapan seekor ayam....
           Manusia yang terlena mengejar kepuasan.....harta.....kedudukan.....kehormatan....seperti ulat gendut yang tak akan pernah menjadi kupu kupu... Semua yang dilakukan, dilakukan dengan penuh perhitungan untung rugi...berpengaruh pada kesuksesannya atau tidak..... berwatak "adigang, adigung adiguna. 
           Memang manusia perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya...tapi hendaknya juga berkarya untuk sesama tanpa harus menjadi lekat dengan apa yang ada pada dirinya dan yang dilakukannya... Manusia "kepompong' dia akan "rame ing gawe, sepi ing pamrih"..segala yang dilakukannya dilandasi oleh kasih...tulus...tanpa pamrih...dan rendah hati...
            Saat ulat menjadi kepompong, dia harus bertahan dari angin dan hujan...tapi dia yakin, suatu hari sayapnya akan tumbuh dan terkembang dengan indah... Sayap yang mampu membawanya melihat keindahan bunga...menari nari di udara untuk hinggap dan menghisap manis madunya kehidupan...untuk kemudian moksa..
           Lanny tercenung....dia mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari pertanyaan putranya. belajar seperti ulat yang berani bermetamorfose untuk sebuah tujuan hidup yang indah. Berbagai pertanyaan muncul dibenak Lanny. Dia mulai mengoreksi batinnya. Sebagai seorang istri, sudahkah dia berbakti pada suami?? berbakti dalam arti tidak terlalu menuntut...dan berusaha mencukupkan dengan penghasilan yang ada?? Sebagai seorang ibu, sudahkah dia membimbing dan memberi pengertian putranya bagaimana menjalani hidup ini..???
           Semoga banyak Lanny dan Benny lainnya bisa memetik pelajaran hidup dari ulat yang bermetamorfose menjadi kupu kupu....menjalani hidup dengan berani berkata dan bersikap"cukup" untuk hal hal yang negativ, yang tidak baik, yang dapat membuat hidupnya tersesat, yang merugikan dan menyakitkan orang lain untuk "MAU" bermetamorfose"BERUBAH" untuk hidup dangan hati yang bersih... tulus dan ikhlas menjalani lakon hidupnya.......****Semoga... ***~*~Tuhan Memberkati~*~
          




Selasa, 03 Mei 2011

Dia Sungguh Menyentuhku

     Beberapa minggu sebelum masa prapaskah tahun ini, aku mulai mengalami hal ini....Mungkin bagi sebagian orang, pengalamanku ini sebuah hal yang biasa, mungkin juga ada yang berpendapat terlalu sentimentil. Aku tak peduli apapun pendapat orang. Aku sangat mensyukuri apa yang kualami dan hal ini semakin menambah keyakinanku akan Dia.....bahwa Dia sungguh nyata dan sangat mencintai aku.
     Seperti biasa hari Minggu itu kami, (aku,suami dan anakku) ke gereja untuk mengikuti misa. Kami menempati deretan bangku yang agak di belakang. Kuikuti perayaan Misa dengan sepenuh hatiku. Pada saat kami memuliakan Dia dengan madah "Kemuliaan", tiba tiba sesaat aku mencium aroma anggur....tipis.....namun saat Konsekrasi, kembali tercium olehku aroma anggur yang kuat, padahal kami jauh dari altar... Saat itu aku sungguh merasakan Dia hadir dalam Ekaristi tersebut. Aku merasakan sesuatu di hatiku yang tak dapat kuungkapkan dengan kata kata. Aku sangat bersyukur, dan aku merasa imanku semakin dikuatkan.
     Minggu masa prapaskah, aku tidak ingat minggu ke berapa....sewaktu mengikuti misa, kembali aku menerima SapaanNYA.....begitu dekat...menyentuh lembut panca indraku...Sesaat menjelang konsekrasi, aku mencium aroma ratus pedupaan...padahal saat itu tidak ada pendupaan. Hatiku merasakan sesuatu yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata....rasa itu menelusuri relung palung hati ku yang paling dalam.....ada haru  di sana....Aku semakin hanyut dalam penghayatan konsekrasi, seakan kusaksikan kembali saat saat Tuhan Yesus mengadakan perjamuan terakhir. Pudji Tuhan...syukur PadaMu karena cinta MU yang amat luas tak terbatas.... Engkau sungguh nyata...cinta Mu sungguh besar kapadaku yang lemah dan berdosa ini...
     Hari-hari semakin dekat dengan pekan suci.... Aku menyadari, masih sangat kurang kesiapanku untuk menyambutnya. Aku belum memanfaatkan waktu yang ada sebaik baiknya...Waktu 40 hari, rasanya belum cukup bagiku untuk melakukan pertobatan. Dengan segala ketrbatasan dan kekuranganku, aku menyambut pekan suci tahun ini. Minggu Palma berlalu dengan segala kemeriahannya.... Kamis Putih kuikuti dengan penuh penghayatan, tapi aku tidak bisa mengikuti tuguran, walaupun aku sangat ingin...
      Tibalah saatnya Ibadat Jumat Agung, saat kita merenungkan kembali saat-saat Yesus menderita yang amat sangat...!! Menderita karena dosa-dosa manusia, termasuk dosa-dosaku......Ampuni aku Tuhan..... Ibadat Jumat Agung, sungguh ibadat yang sangat agung. Saat penghormatan salib adalah saat yang begitu mengiris perasaanku... Aku tak bisa membayangkan betapa hebatnya derita yang harus Dia tanggung... Hatiku semakin terenyuh.... Setelah penghormatan salib, kupersiapkan hati untuk menerima komuni.... Ya Tuhan, Tuhan tidak pantas datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh....
     Kulangkahkan kaki, selangkah demi selangkah untuk menyambut NYA....Saat kubersujud untuk bersyukur, kembali Engkau menyapaku...tidak hanya menyapa, tapi Engkau sungguh nyata...ada....Saat itu aku bersujud dengan mata terpejam, baru kuucap dalam hati "trimakasih Tuhan".....tiba tiba aku seperti melihat potongan sebuah film yang membuat aku tercekat tak mampu berucap sepatah katapun.... Aku melihat diriku sendiri bersujud di depan Tuhan Yesus yang juga sedang dalam posisi duduk, berjubah putih dengan rambut berjuntai, sebagian menutup wajah NYA.... Hatiku begitu mengharubiru....aku merasakn cintaku pada NYA yang begitu kuat....kuulurkan tanganku untuk menyentuh Wajah NYa dengan sehelai kain putih ditanganku....air matakumengalir deras....batinku hanya mampu berucap Yesus.... Yesus ...Yesus.....
     Tiba- tiba kutersadar, karena suara anakku Satria yang bertanya pada suamiku, kenapa aku menangis... Terimakasih Tuhan, segala pujian bagi Mu..... Sungguh aku bersyukur, aku yang lemah dan berdosa ini, boleh menerima karunia Mu yang besar.... Sungguh cinta Nya begitu besar kepadaku, dan aku semakin mencintai Nya....Ternyata "hadiah" untukku belum cukup.Kembali aku menerima sentuhan Nya saat aku mengikuti Misa malam Paskah, malam penantian dalam menyambut kebangkitan Nya... Sama seperti waktu ibadat Jumat Agung.... Setelah aku menyambut roti komuni sebagai perwujudan dari Tubuh dan Darah Nya, aku bersuju, bersyukur... saat itulah kembali aku merasakan sentuhanya berupa hembusan angin nan lembut, sejuk menerpa wajahku.... Aku merasakan kedamaian yang sangat... Terimakasih Tuhan....Engkau sungguh mencintaiku...menyentuhku secara nyata melalui panca indraku.... Dia sungguh menyentuhku....
     Tuhan ada diantara kita... Dia menyentuh kita masing- masing dengan cara yang berbeda.... yakinlah Dia sangat mencintai kita, dengan cinta Nya yang luar biasa...tak terbatas.... Semoga iman kita semakin dikuatkan, dan senantiasa berusaha untuk tidak menambah beban penderitaan Nya... Tuhan memberkati.
 


     
     

Selasa, 22 Februari 2011

Sang Ratu

     Peran serta wanita di jaman sekarang, sangatlah berbeda sekali dengan jaman dahulu. Banyak remaja, gadis, wanita pekerja, sampai ibu rumah tangga dapat mempunyai segudang kegiatan, entah itu positif maupun negatif, tergantung pemilihan jalan hidup yang mereka putuskan. Mengupas kehidupan wanita tidaklah mudah. Bagai mengupas bawang bombay, semakin dikupas selapis, ada lapisan berikutnya, begitu seterusnya.
     Satu yang sama diantara semua wanita, yaitu ingin selalu cantik dan awet muda. Banyak cara mereka tempuh untuk mendapatkannya. baik dengan cara modern maupun dengan cara tradisional. Bagi mereka yang tinggal di perkotaan, dan cukup mampu, mereka akan menggunakan cara modern yang banyak ditawarkan klinik kecantikan yang ada. Bagi mereka yang kurang mampu, mereka akan mencari cara yang lebih murah, yang terjangkau kantong mereka.
     Mereka kadang terobsesi dengan keinginan memiliki wajah , bentuk tuduh dan kulit yang sempurna menurut ukuran mereka. Bahkan demi semua yang bersifat jasmani itu, mereka rela melakukan apa saja agar bisa mendapatkan cukup uang untuk memenuhi obsesinyanya.Kadang mereka melupakan hal yang lebih penting dari semua itu. Kesempurnaan seorang wanita, tidak hanya pada kesempurnaan fisik mereka, tapi bagaimana dia mampu menjadi Ratu dalam kehidupan ini.
     Seorang ratu, selain memiliki kecantikan jasmani, dia juga harus mampu menjadi 'ratu' dalam hal yang lebih luas.Ratu harus mampu menjadi seorang kekasih bagi Raja, yang dapat mengisi hari - hari sang raja, yang selalu ada disaat raja membutuhkan, dan dapat membuat Raja bahagia. Seorang kekasih yang setia dalam untung dan malang. Ratu juga mampu menempatkan diri sebagai Permaisuri bagi raja. Tidak hanya indah untuk dipajang sebagai pelengkap, namun dapat sejajar, menyumbangkan pemikiran - pemikiran positif dan solusi untuk permasalahan yang dihadapi raja. Dapat saling asah, asih dan asuh. Di saat raja berhalangan, dia harus mumpuni mengambil alih peran Raja, namun tetap menghargai dan menghormati raja. Saat tertentu, Ratu pun harus mampu berperan sebagai seorang ibu bagi sang raja. Mampu menyejukkan dan menenangkan bilamana Raja sedang gelisah.
     Pada dasarnya, tiap insan, siapapun itu, berapapun usianya, senantiasa merindukan belaian kasih seorang ibu, belaian yang penuh kasih dan kelembutan. Belaian seorang ibu, mampu menyejukan dan meneduhkan hati yang gelisah. Seorang Ratu, yang baik, pandai dan bijaksana namun tetap rendah hati, akan mampu menjadi ibu yang sempurna bagi anak anak yang dititipkan Tuhan, yang lahir dari rahimnya yang suci. Dan anak anaknyapun menjadi anak anak yang diberkati, hidup dengan baik yang kelak dewasa mampu jadi penerus bangsa. Sungguh tidak mudah untuk menjadi seorang 'Ratu'.
    Wanita jaman sekarang banyak yang ingin seperti ratu. .Ratu yang memiliki wajah jelita, dengan kulit dan bentuk badan yang nyaris sempurna, plus pintar dalam ilmu pengetahuan.
     Dengan kemolekan wajah dan tubuhnya, berusaha meraih kebahagiaan sempurna, hidup berkecukupan dan terkenal, walaupun kadang dengan menempuh cara yang sesat, merendahkan diri dan harkatnya sebagai wanita. Wanita seperti ini biasanya suka menempuh jalan pintas untuk mencapai tujuannya.Membuat sensasi sensasi murah untuk mendongkrak popularitas. Kalau jaman dulu, mungkin yang disebut tledhek !!
     Ada juga yang dengan kepandaiannya, wanita mampu meniti karier dengan baik, mempunyai penghasilan yang lebih. Yang kadang justru membuat dia kurang menghormati lelaki. Bahkan ada yang mampu 'membeli 'lelaki untuk kesenangan mereka. Byuuuhh....!!!
       Masih ada lagi wanita - wanita masa kini yang mempunyai kehidupan dan cara hidup yang sungguh jauh dari sikap seorang ratu yang sungguh - sungguh 'Ratu'.... Bagaimana dengan anda..?? Mau pilih jadi wanita luhur jaman dahulu, yang pinter ngadi busono, ngadi  saliro, tansah ngudi kamulyan ( pinter dalam berpenampilan, menjaga kesucian diri, dan selalu mengusahakan hal- hal yang mulia) atau menjadi wanita modern yang kadang lupa adi kodrati... Pilihan ada ditanganmu...
  

Yu Poni

     Pagi itu Yu Poni tetanggaku kelihatan kusut.!1 Rambutnya yang memutih dibiarkan awut awutan. Uban yang mestinya belum saatnya tumbuh diusianya yang masih relatif muda. Entah karena pikirannya yang terlalu menanggung beban hidup yang begitu berat, atau karena bahan kimia dalam shampoo yang digunakan, telah membuat rambut yu Poni yang bergelombang itu lebih dari separuh memutih.
     " Ada apa to yu...??' tanyaku.... "Mboh ki mbak, mumet tenan sirahku..."( Gak tau nih mbak, kepalaku pusing sekali )...jawab yu Poni langsung duduk di depanku yang sedang meracik bumbu di dapur. Kulhat wajahnya benar -benar kucel..kusut..."Ada apa to? tentang kang Ponidi??" Tanyaku. Dia mengangguk....
Pagi itu, aku dengarkan cerita Yu Poni dengan penuh keprihatina, tapi aku tidak bisa berbuat banyak untuk ketidak adilan yang dialaminya.
     Malam itu memang ada pertemuan beberapa orang di rumah Pak Samin, untuk merembug permasalahan kang Ponidi. Tentu saja yu Poni dan kang Ponidi hadir di situ.... Yu Poni pada awalnya tidak tau, kenapa dia juga ikut 'dipanggil'... Entah siapa yang lapor pada siapa, yu Poni juga tidak tau. Yu Poni yang makan bangku sekolah cuma sampai kelas 5 SD,sama sekali tidak mengerti, kenapa dalam pertemuan itu, justru dia yang disalahkan dan dipojokkan.
     Dalam pertemuan itu, hadir juga Menik. Seperti namanya, wanita desa itu memiliki wajah yang imut, kulitnya bersih, putih, tidak seperti wanita desa kebanyakkan. Menik mempunyai suami Sarman. Suaminya tidak punya pekerjaan, kadang pergi berbulan-bulan, tapi setiap pulang hanya untuk meminta uang atau menjual apa saja yang bisa dijadikan uang Harta warisan peninggalan orang tua Menik pun habis dijual oleh Sarman.
     Entah siapa yang mulai, diam diam Ponidi sering menyambangi Menik. Sepertinya Menik menikmati perhatian Ponidi. Entah apa yang ada di benak Menik, sampai sampai dia mau berhubungan dengan Ponidi. Padahal, Ponidi bukanlah lelaki berduit, dan dia tidak lebih baik dari Sarman. Pekerjaannya juga serabutan, kalau dapat sedikit uang saja, habis untuk beli rokok dan kesenangannya sendiri.
     Yu Poni, wanita yang kuat, baik fisik maupun mentalnya. Tiga anak laki laki, telah dilahirkannya ke muka bumi. Tiap hari selalu bekerja keras. Buruh tandur ( menanam padi ), membantu orang hajatan, mencari makanan buat ternak kambingnya, mengumpulkan batu di kali dan sebagainya... yang penting bagi diam bagaimana bisa mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup bersama anak anaknya. Anak anaknya cukup tau diri dengan keadaan orang tuanya. Dia sangat tegar menghadapi suaminya yang kurang bertanggung jawab, dia tak pernah menuntut ataupun protes...
     Pagi itu, ketegaran dan kekuatan yang ada pada yu Poni luruh.... Dia merasa tidak melaporkan pada siapapun masalah skandal suaminya dengan Menik yang sudah jadi rahasia umum. Selama ini dia tidak peduli bagaimana kelakuan suaminya itu.Yang membuat hati yu Poni hancur, remuk,.dan merasa diperlakukan tidak adil justrru pada saat pertemuan itu, dirnya yang dipersalahkan oleh orang orang terpandang itu...!!! Dia dituduh menyebarkan fitnah pada Menik....!!! Menyebar gosip, bahwa Menik telah menggoda suaminya...!! Dia tidak diberi kesempatan membela diri dan tak ada yang memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan!! Mendengar cerita yu Poni, aku hanya bisa mengurut dada, dan menyebut duh Gusti.....
     Aku tak dapat memberi solusi pada masalah yu Poni..... aku tau persis, dia bukan wanita yang sering main ke tetangga untuk sekedar ngerumpi seperti kebanyakan wanita yang malas, waktunya habis untuk bekerja, bekerja, dan bekerja... bahkan untuk merawat badan dan wajahnyapun tak sempat ia lakukan. Aku hanya  dapat menghiburnya.....untuk sabar dan pasrah dalam ketakberdayaan menjalani lakon hidup yang harus dijalani.....
     Yu Poni tetap menjalani hari- hari nya seperti biasa, meskipun luka dihatinya masih perih. Dia yakin luka itu akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Dia yakin ada penyembuh yang Ilahi. Dan dia selalu yakin, selalu ada hikmah dan rencana Tuhan yang indah dibalik kepahitan hidup yang dialaminya. Satu yang dia minta pada Sang Pengatur Kehidupan, dia berharap kelak anak-anaknya beroleh kehidupan yang lebih baik. Dia rela mengorbankan kebahagiaannya demi masa depan anak- anaknya. Dia akan terus berjuang, berjuang dan berjuang untuk buah hatinya...
  

Sabtu, 19 Februari 2011

Tiwul

     Tiwul itu nama panggilanku. Menurut cerita para tua, nama itu diberikan padaku sebagai peringatan, betapa waktu aku lahir, keadaan  ekonomi orang tuaku sangatlah memprihatinkan. Sebagai adat di desa, jika ada seorang bayi lahir, maka setiap malam pasti ada para tamu yang melek di rumah keluarga yang baru saja mendapatkan anggota baru. Makanan tiwul itulah yang disuguhkan pada para tamu yang melek setelah kelahiranku.
     Meski aku lahir sebagai anak ke tiga, dari empat orang yang semuanya perempuan, namun butuh perjuangan berat bagi ibuku waktu proses melahirkan aku. Entah karena sebab itu, atau sebab yang lain aku tak tau. Tapi sungguh, aku merasa sangat berbeda dari saudara saudaraku. Bukan karena tak ada kemiripan aku dengan mereka,tapi perlakuan ibuku padaku juga sangat berbeda.
     " Wah, Bu....kok putrinya yang ini beda sekali?? buat saya saja ya?" Boleh ditukar apa saja, saya bersedia".... Seringkali, tiap aku dan ibuku bertemu dengan orang yang tidak dikaruniai anak perempuan atau yang tidak dikaruniai anak, pasti diriku di goda, dicubit lembut pipiku. Di salah satu sisi, aku begitu menggemaskan bagi orang lain, tapi dimata keluargaku, kecuali ayahku, aku seperti anak pungut yang layak diperlakukan berbeda dangan saudaraku yang lain....
     Kuingat, sejak kelas 3 Sekolah Dasar,hampir tiap hari ada yang salah pada diriku di mata ibuku atau saudara saudaraku.... Aku sering didiamkan oleh ibuku, yang kadang aku tidak tau dimana letak kesalahanku.. Begitu juga dengan kakak-kakakku... Jika ke sekolah aku kelupaan membawa PR, salain menegurku, guruku juga menegur kakakku supaya membimbing aku, dan itu akan membuat mereka marah padaku. aku tak punya tempat mengadu... Entah kekuatan dari mana aku tidak tau... Tiap aku kena marah atau bersedih, aku langsung masuk kamar, berdoa dengan caraku sendiri mengadu pada Tuhan......
     Waktu terus bergulir, aku tumbuh jadi gadis yang minder, pemalu dan kurang percaya diri. Tapi aku cukup mandiri untuk melakukan sesuatu yang kuanggap benar. Sering sepulang sekolah, setelah menyelesaikan tugas sekolah, aku bermain ke rumah tetangga....mengamati, mencoba dan membantu pekerjaan yang mereka lakukan. Dari mereka aku banyak balajar, bagaimana memintal benang, ngeklos benang dengan kleting, serta menenun setagen. Mereka baik hati memberi kesempatanku belajar. Tak jarang bila mereka panen hasil ladang aku membantunya. Pada awalnya mereka keberatan, tapi setelah mendengar penjelasanku, mereka dengan senang hati mengajariku...
     Meski di rumah aku dipanggil Tiwul, tapi tetanggaku dan orang- orang yang tau siapa orang tuaku, mereka memanggilku Mas Roro. Walaupun aku masih kecil, tapi mereka berbicara padaku dengan bahasa Jawa yang halus. Saat itu aku tidak peduli dengan sebutan Mas Roro, dan perlakuan mereka yang sangat sopan padaku, tapi aku selalu menghormati mereka apalagi yang sudah sepuh, aku sangat menghormatinya. Siapapun itu.!!Bagiku, orang yang sepuh, doa dan restunya lebih baik. Dari mereka juga aku banyak belajar bagaimana menghadapi hidup ini. Aku sering mengamati mereka. Mereka sungguh bisa jadi panutan, baik tutur maupun tingkah lakunya.
     Sungguh berbeda dengan orang tua dan para sepuh jaman sekarang. Jika jaman dulu ada istilah Anak polah bapa kepradah, sekarang terbalik, bapa polah, anak kepradah.... Aku, Tiwul, bersyukur pada Tuhan yang setia menjagaku, aku tidak protes atau dendam pada masa kecilku yang pahit, tapi aku sungguh bersyukur memperoleh gemblengan yang membuat jiwaku lebih tangguh dan membuatku tegar dalam menghadapi gelombang kehidupan ini.
     Kini aku dan suamiku bahagia dengan dua anak angkat kami yang kudidik dengan adil dan penuh kasih sayang. Aku selalu memberikan apa yang dulu tak pernah ku peroleh dari orang tuaku. Kasih sayang dan perhatian yang tidak pilih kasih.
     Jika kita menghadapi kepahitan hidup, bersandarlah kepadaNYA, sabar menjalani ujianNYA, belajarlah pada kehidupan itu sendriri, karena sesuatu itu akan indah pada waktunya.