hidup bagai pelangi..penuh warna, terang gelap, jelas tersamar,berbaur..menuju titian tangga kehidupan......
Kamis, 20 Maret 2014
Senin, 17 Maret 2014
Bukit Cinta
Sejenak dalam saat hening . Matahari belum nampak. Burung burung berkicau merdu, bersaut sautan...sesekali ditimpa kokok ayam dikejauhan... Cicak pohonpun tak mau ketinggalan...
Udara pagi merasuk menelusuri pori pori kehidupan. Lembut...halus....menyentuh jiwa... Kurasakan dingin yang menyejukkan...semilir....mengalirkan kidung pujian...
Dikeheningan hati, diantara riuh rendah dendang nyanyian alam semesta kudengar lembut suara ranting dan daun luruh ke bumi. Lembut....halus....bagaikan lagu persembahan, kepasrahan dan kerinduan pada Sang Pengatur Kehidupan...
Bersyukur atas cintaNya yang tak tebatas, tercipta sebagai manusia...atas kesempatan untuk mengagumi ciptaan Nya....karena boleh merasakan sentuhan cinta Nya yang luar biasa melalui orang tua, saudara, teman, dan orang orang yang mengasihi dan kukasihi. Terlebih atas cinta Nya melalui dirimu. Hatiku menyanyikan kidung Pujian Bagi Nya.
Kubuka mataku....dan kau ada didepanku, tersenyum penuh kasih. Kau ulurkan tanganmu membimbingku untuk menyongsong matahari terbit dibukit kecil itu. Kaki kaki telanjang kita menyibak rumput rumput basah bermandi embun. Berlari kecil kita bersama...sambil bercanda ria...sambil sesekali saling meledek sayang. Kau dan aku berlomba untuk mengabadikan sunrise yang mulai muncul dari tempat persembunyiannya yang malu malu bagai pengantin baru keluar dari peraduan.
Dibukit itu, kita sering menghabiskan waktu untuk bicara banyak hal, tentang manusia dan alam semesta, tentang cinta....cinta sesama...cinta kepada alam semesta...cinta yang luas dan agung.
Dari bukit kulihat view yang sangat indah, seindah cintamu dan cintaku dalam cinta Nya. Cinta didalam Tuhan akan senantiasa dijaga. Bunga warna warni bermekaran, pucuk pucuk bersemi, petani petani memulai aktifitasnya. Senyum tulus mereka menyapa kita.
Bergandengan menuruni bukit cinta, menyongsong hari baru, dengan penuh kesetiaan mengisi hari hari dengan cinta yang tulus, berkarya untuk sesama dengan bimbingan Dia, berserah,dan berharap pada Dia.
BURUH GENDONG
Untuk persiapan menyambut Tahun Baru yang lalu, aku bersama beberapa teman sepakat berbelanja di sebuah pasar tradisional di sudut kota Semarang. Saat matahari masih memerah, bundar, kami sudah meluncur menembus kabut tipis yang tersibak angin, menuju passar. Sesampainya di pasar sudah lumayan ramai. Hiruk pikuk penjual dan pembeli memecahkan kesunyian pagi yang masih agak remang remang. Beberapa lampu masih menyala, menyapu wajah wajah yang kuyu karena kurang tidur demi mencari rupiah.
Beriringan memasuki pasar...menelusuri lorong disela sela pedagang...sebentar berhenti untuk memilih dan menawar. Tak terasa tangan ini mulai kerepotan membawa belanjaan. Seorang wanita paro baya, dengan pakaian lusuh, menggendong bakul menawarkan jasanya pada kami. "Bu, saya bantuin bawa belanjaannya'...kupandang sejenak wanita itu, lalu kuanggukkan kepala. Dengan setia dia mengikuti kami belanja, bakul yang digendongnya tak lama sudah mulai penuh. Aku tak tega, belanjaan yang ditanganku urung aku masukkan ke bakulnya. Akhirnya aku dan temanku selesai belanja, dan kami beriringan keluar pasar menuju tempat dimana mobil kami parkir.
Sambil memasukkan belanjaan ke mobil, aku bertanya pada wanita yang jadi buruh gendong itu. Diapun menceritakan kehidupannya.
Dia seorang istri dan ibu dari 2 anaknya yang sudah besar. Suaminya tinggal di desa pinggir kota Surakarta. Anaknya yang besar sudah berkeluarga dan bekerja di sebuah pabrik di daerah Tangerang. Suaminya bekerja sebagai penarik becak, tinggal dengan anak lelaki bungsunya yang masih sekolah di sebuah Sekolah Menengah, Anak lelakinya sering membantu ayahnya kerja serabutan.
"lha kok tinggalnya misah-misah dan berjauhan gitu kenapa?" tanyaku ... Wanita itu menceritakan bahwa dia dan suaminya mempunyai cita cita, supaya anak bungsu mereka kelak mempunyai penghidupan yang lebih baik dari orang tuanya. Sempat terlontar pertanyaan dariku, kenapa dia tidak memilih jadi pembantu rumah tangga. Dia beralasan, jadi pembantu rumah tangga itu kalau dapat majikan yang pengertian ya enak, tapi kalau tidak, malah jadi sengsara. Dia memilih menjadi buruh gendong, dia merasa lebih merdeka, bisa kapan saja pulang menengok keluarganya di kampung. Dia memilih kota Semarang sebagai tempat mengadu nasib, setelah dia mencoba di beberapa kota lainnya.
Waktu aku tanya berapa rata rata penghasilannya tiap hari. :"ya kalau pas rame, saya bisa dapat uang sampai 25 ribu keatas...tapi kalau sepi ya paling lima sampai sepuluh ribu"jawabnya.
Pendapatannya itu digunakan sebagian untuk makan, sebagian untuk bayar sewa, sebagian dikumpulkan untuk dibawa saat pulang kampung. Di Semarang dia hanya menyewa tempat untuk tidur saja, Tempat itu mirip sebuah barak, sebuah ruangan lumayan lebar, tanpa sekat sekat, digunakan untuk tidur beramai ramai,Orang orang yang menyewa ruangan itu dikenai tarip dua ribu rupiah perorang, permalam. Hidup mereka simple. mereka hanya butuh tempat berlindung dari hujan dan dinginnya malam untuk sekedar memejamkan mata dan melepas penat setelah sehari bekerja. Di tempat itu tak tersedia fasilita apapun. Hanya tikar saja. Mereka tidur berbantal tas pakaian masing masing. Untuk mck pun, mereka menggunakan fasilitas umum di pasar atau tempat umum lainnya.
Wanita itu sudah menjalani hari harinya di kota Semarang sebagai buruh gendong selama 4 tahun. Di saat ada kepentingan keluarga, baru dia pulang ke desa. Waktu aku bertanya, bagaimana situasi rumah tangganya, dia menjawab,bahwa rumah tangganya baik baik saja. Suami dan dirinya mempunyai kesadaran untuk saling setia, dan bahwa apa yang dilakukan adalah mencari uang dengan cara yang benar, demi masa depan anak mereka. Dan si anakpun tidak menyia nyiakan perjuangan orang tuanya. Anak lelakinya , tempat menaruh harapan, mempunyai prestasi yang baik di Sekolahnya.
Satu pembelajaran yang tak terduga aku dapatkan dari seorang buruh gendong.
Senin, 10 Maret 2014
SEPASANG NYIUR
Kau selalu disisiku, ku senantiasa disampingmu
Kita berdua seakan tak terpisahkan
Bersama kita berjuang dan bertahan
Asa takkan henti hingga akhir keabadian
Meski menghadang hantaman gelombang pasang
Takkan tumbang, karena akar yang menancap kokoh dalam perut bumi
Serabut akar terjalin berpilin, bergandengan bagai tangan pengantin
Itulah sumber kekuatan bagi batang tetap tegak bagai tiang pancang
Dikala angin membawa melodi cinta
Pelepah daun meliuk melambai menari nari
Bagaikan sepasang kekasih berdansa tiada henti
Menari diatas kanfas biru langit, memendarkan cahaya mentari
Lihatlah anak- anak manusia di bawah sana
Berteduh 'tuk lepaskan penat jiwa
Biarlah mereka beroleh pelepas dahaga
Agar mereka bertahan dan tak binasa
Kita berdua seakan tak terpisahkan
Bersama kita berjuang dan bertahan
Asa takkan henti hingga akhir keabadian
Meski menghadang hantaman gelombang pasang
Takkan tumbang, karena akar yang menancap kokoh dalam perut bumi
Serabut akar terjalin berpilin, bergandengan bagai tangan pengantin
Itulah sumber kekuatan bagi batang tetap tegak bagai tiang pancang
Dikala angin membawa melodi cinta
Pelepah daun meliuk melambai menari nari
Bagaikan sepasang kekasih berdansa tiada henti
Menari diatas kanfas biru langit, memendarkan cahaya mentari
Lihatlah anak- anak manusia di bawah sana
Berteduh 'tuk lepaskan penat jiwa
Biarlah mereka beroleh pelepas dahaga
Agar mereka bertahan dan tak binasa
Senin, 03 Maret 2014
PUNGUT
Pagi pagi benar lelaki itu sudah datang. Duduk setengah jongkok bersandar di tembok. Kudekati dia dan kuserahkan kontak mobil adikku padanya. Sengaja aku tak hendak menyetir sendiri, aku meminta bantuan lelaki itu untuk mengantarkan kami keliling Kota, dimana aku pernah melewati puluhan tahun dalam hidupku di kota ini. Aku ingin menelusuri kembali jalan jalan yang pernah aku lalui.....
Pagi itu aku ingin mengunjungi teman teman sewaktu aku masih mengajar di sebuah sekolah swasta. Aku bersyukur, meski terentang jarak dan waktu, keakraban dan persaudaraan kami tak putus. Masih saja heboh kalau bercanda.....hehehe....
Di sekolah itu kenangan akan para siswa yang menjadi muridku dengan berbagai polah tingkahnya yang khas anak anak muncul kembali...Aku bahagia dan bersyukur..meski mereka sudah ada yang kerja ataupun kuliah, masih ada yang sering kontak denganku...demikianpun walimurid.
Kangenku pada dunia pendidikan berpeluk keprihatinanku akan dunia pendidikan saat ini. Seperti lingkaran yang tak berujung....
"Bu...saya tadi ditanya oleh pak Satpam yang jaga".....aku tersadar oleh perkataan sopir. "Pak satpam tadi bertanya, apakah saya yang mengantar ibu, kemudian satpam itu bercerita bahwa ibu pernah ngajar disitu.....".aku jawab iya...
Entah jembatan kalimat yang mana aku tak ingat....dari tentang sekolah itu berujung ke cerita tentang kehidupan lelaki yang jadi sopir kami saat itu.
Lelaki itu bercerita, tentang mimpi mimpinya dimasa muda...tentang mimpi mimpi itu harus kandas karena dia lebih mementingkan menunggui orangtuanya yang sakit sakitan...dia tinggalkan ibu kota, dia tinggalkan kanfas kahidupannya disaat dirinya mulai melukis , merealisasikan keindahan akan mimpi mimpinya.
Kembali ke rumah orangtua, menemani, merawat hingga orang tuanya meninggal. Sejak orangtuanya meninggal, dia sebatang kara. Saat aku tanya, adakah sanak family lainnya?? "tidak ada bu......saya bukan anak kandung mereka, tapi anak angkat, makanya saya diberi nama "Pungut"..."
Aku terdiam.....dan aku makin terdiam saat kami melewati sebuah gubug bambu yang sudah mulai miring... Pungut menunjukkan bahwa itulah rumah warisan orangtua angkatnya. bahwa rumah itu berdiri diatas lahan sewa..... Duhhh.... Saat ini, di rumah itulah Pungut tinggal dengan istri dan anaknya. Istrinya yang jauh lebih tuapun tak soal bagi dia. Kehidupan yang amat sangat sederhana. Rumah gubug reyot diantara rumah rumah yang megah dan mewah. Sungguh sangat kontras. Apakah tuan tuan dan nyonya nyonya besar penghuni rumah mewah pernah peduli dengan kehidupan seorang Pungut??? semoga....
Ah....aku tak mau memikirkan mereka. Biarlah mereka hidup menurut pilihan mereka. Mereka yang bangga akan harta dan kemewahan juga gila hormat. Itu pilihan. Semoga merekapun siap menerima konsekuensi dari pilihannya itu.
Perjalananku menyusuri jalan dan lorong kota ini memperoleh banyak hal. Begitu banyak Pelajaran yang kuperoleh hari ini . Dan itu sangatlah berharga bagiku.
Satu pelajaran berharga tentang kehidupan dari seorang "Pungut"....Kesetiaan dan kasihnya pada orang tua, kerelaanya meninggalkan mimpi demi orang yang telah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang....Kesetiaan dalam kekurangan. Sanggupkah kita???
Setangkup doaku...semoga kaliyan beroleh kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Amin.
Pagi itu aku ingin mengunjungi teman teman sewaktu aku masih mengajar di sebuah sekolah swasta. Aku bersyukur, meski terentang jarak dan waktu, keakraban dan persaudaraan kami tak putus. Masih saja heboh kalau bercanda.....hehehe....
Di sekolah itu kenangan akan para siswa yang menjadi muridku dengan berbagai polah tingkahnya yang khas anak anak muncul kembali...Aku bahagia dan bersyukur..meski mereka sudah ada yang kerja ataupun kuliah, masih ada yang sering kontak denganku...demikianpun walimurid.
Kangenku pada dunia pendidikan berpeluk keprihatinanku akan dunia pendidikan saat ini. Seperti lingkaran yang tak berujung....
"Bu...saya tadi ditanya oleh pak Satpam yang jaga".....aku tersadar oleh perkataan sopir. "Pak satpam tadi bertanya, apakah saya yang mengantar ibu, kemudian satpam itu bercerita bahwa ibu pernah ngajar disitu.....".aku jawab iya...
Entah jembatan kalimat yang mana aku tak ingat....dari tentang sekolah itu berujung ke cerita tentang kehidupan lelaki yang jadi sopir kami saat itu.
Lelaki itu bercerita, tentang mimpi mimpinya dimasa muda...tentang mimpi mimpi itu harus kandas karena dia lebih mementingkan menunggui orangtuanya yang sakit sakitan...dia tinggalkan ibu kota, dia tinggalkan kanfas kahidupannya disaat dirinya mulai melukis , merealisasikan keindahan akan mimpi mimpinya.
Kembali ke rumah orangtua, menemani, merawat hingga orang tuanya meninggal. Sejak orangtuanya meninggal, dia sebatang kara. Saat aku tanya, adakah sanak family lainnya?? "tidak ada bu......saya bukan anak kandung mereka, tapi anak angkat, makanya saya diberi nama "Pungut"..."
Aku terdiam.....dan aku makin terdiam saat kami melewati sebuah gubug bambu yang sudah mulai miring... Pungut menunjukkan bahwa itulah rumah warisan orangtua angkatnya. bahwa rumah itu berdiri diatas lahan sewa..... Duhhh.... Saat ini, di rumah itulah Pungut tinggal dengan istri dan anaknya. Istrinya yang jauh lebih tuapun tak soal bagi dia. Kehidupan yang amat sangat sederhana. Rumah gubug reyot diantara rumah rumah yang megah dan mewah. Sungguh sangat kontras. Apakah tuan tuan dan nyonya nyonya besar penghuni rumah mewah pernah peduli dengan kehidupan seorang Pungut??? semoga....
Ah....aku tak mau memikirkan mereka. Biarlah mereka hidup menurut pilihan mereka. Mereka yang bangga akan harta dan kemewahan juga gila hormat. Itu pilihan. Semoga merekapun siap menerima konsekuensi dari pilihannya itu.
Perjalananku menyusuri jalan dan lorong kota ini memperoleh banyak hal. Begitu banyak Pelajaran yang kuperoleh hari ini . Dan itu sangatlah berharga bagiku.
Satu pelajaran berharga tentang kehidupan dari seorang "Pungut"....Kesetiaan dan kasihnya pada orang tua, kerelaanya meninggalkan mimpi demi orang yang telah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang....Kesetiaan dalam kekurangan. Sanggupkah kita???
Setangkup doaku...semoga kaliyan beroleh kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Amin.
Sabtu, 18 Januari 2014
Goresan disuatu waktu....
Hari ini seperti hari kemarin...cuaca mendung, aktifitas jadi sedikit terganggu...iseng aku buka - buka buku harianku, sekedar untuk mengenang hal hal yg telah kulalui...sebagai bahan refleksi diri....tiba tiba aku temukan goresan penaku saat itu.
Dalam kesesakan
Ke puncak bukit sepi...
Kutelusuri jalan yang sunyi
Kugapai pucuk daun berembun dengan harap sejukkan jiwaku...
Namun....
Langkahku surut dan terhenti...
Kususun tanya dalam hati sanubari
Kubisikkan lewat bayu yang membawa awan Kepada -Mu
Akankah embun itu untukku???
Tak ku dengar jawab Mu ...
Ataukah aku yang tiada rungu??
Sejenak ku ragu...akhirnya ku berlalu...
Kuayun langkah mendaki bukit ke puncak kesunyian
Kupanggul segala beban dengan sebuah harapan
Tapi ...jawaban tak jua aku dapatkan....
Alfa dan Omega...awal dan akhir...
berikan jawab -Mu pada doaku...
11 nop 2009
Aku tersenyum kecil....anganku sebentar malayang ke saat itu. Betapa waktu itu aku merasa ditinggalkan oleh Nya..betapa aku meragukan cinta Nya...Saat itu, aku begitu mendamba sesosok yang mau memikul beban bersamaku...yang selalu menyejukkan hatiku, bukan hanya seperti embun dipagi hari yang sirna saat matahari meninggi, namun bagai mata air yang tak pernah kering.
Kini...saat ini...tak ada lagi keraguan dihati...kini ku yakin akan cinta Mu. Aku telah dapatkan jawab dari Mu. memang embun itu bukan untukku, tapi kau beri aku sebuah mata air yang tak pernah kering...bening, sebening hatinya, setulus kasihnya yang selalu setia menyejukkan disaat gerah. Tak hanya menghilangkan dahagaku, namun mampu mengaliri untuk memberi kehidupan, mengalir menelusuri liku liku hidup sampai ke muara kehidupan...hingga nanti aku kembali pada - Mu... amin.
KUYAKIN KAN SELALU ADA JALAN. SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA. ^_^
Senin, 10 Desember 2012
ULANG TAHUN
Beberapa waktu lalu, kemarin, hari ini, besok, lusa, beberapa hari lagi....
.Mereka, dirimu, aku dan dia mengenang kembali saat kita terlahir dari rahim ibu kita, masuk dunia yang fana ini. Kita terlahir dari rahim yang berbeda, tapi kita dibentuk oleh Kuasa yang sama. Dia Sang Pencipta, Sang pemberi kehidupan. Dari bayi merah tak berdaya, kita tumbuh dan berkembang. Bilangan2 yang kita lalui sebagai peringatan akan jalan kehidupan yang telah kita lalui. Raga kita berkembang, akan kah jiwa dan iman kita ikut tumbuh dan berkembang???
Mereka, dirimu, aku, dan dia, mempunyai cara yang berbeda dalam mewujudkan rasa syukur kita pada Yang Maha Kuasa. Dia pencipta langit, bumi dan seisinya....Dia Maha Pintar, apapun bentuk dan bagaimanapun cara kita bersyukur, Dia menerima dan Dia tak akan pernah salah. Mari kita bersandar hanya pada Dia, mohon bimbingan Nya agar kita semakin mengenal Dia dan berbakti kepada Nya. Marilah kita jalani kehidupan kita, pekerjaan kita, tugas tugas kita sebagai persembahan hidup kita pada Dia, karena kepadaNyalah kelak kita akan kembali. Dia begitu mengasihi kita. Kasih Nya begitu luar biasa.
Kita boleh menerima dan merasakan kasih cinta Nya, kita diciptakan menjadi manusia, diberi kesempatan hidup untuk menikmati segala keagungan ciptan Nya, alam semesta yg begitu elok. Diberi cinta dan kasihnya, baik melalui pengalaman iman maupun melalui orang2 terdekat...Terlebih melalui orang tua, saudara, suami, istri, anak2, kekasih dan sahabat. Tiada yang lebih indah dan membahagiakan selain hidup dalam Kasih Tuhan.
Begitupun aku, ku bersyukur pada Tuhan, aq boleh menerima sapaan Kasih Nya, melalui teman2 ku, keluargaku pada hari ini, hari dimana aq mengingat kembali waktu2 yang telah kulalui, waktu yang penuh dengan suka dan duka, susah senang. Semua aku syukuri, aku ikhlas menerima, karena memang itu sudah tertulis sebagai skenario kehidupan yang harus aku lakoni. Aku bahagia bersama Nya. Satu yg kumohon di hari ultahku ini, semoga Dia berkenan menurunkan Roh Kudus Nya, untuk membimbing aku, agar aku semakin mengenal Dia, berbakti kepada Nya dan aku selalu hidup seturut kehendakNya, krn kepada Nya kelak aku akan kembali. Amin.
Terimakasih untuk teman2ku, saudara2 ku, keluargaku atas perhatiannya, ucapannya, terlebih atas doa2 untukku dihari yang istimewa ini. Semoga kita semua senantiasa dilindungi dan diberikan rahmat kedamaian lahir dan batin. Tuhan memberkati.
Maaf ya, baru bisa bagi bagi gambarnya....hehehehe.
Salam kasih.
.Mereka, dirimu, aku dan dia mengenang kembali saat kita terlahir dari rahim ibu kita, masuk dunia yang fana ini. Kita terlahir dari rahim yang berbeda, tapi kita dibentuk oleh Kuasa yang sama. Dia Sang Pencipta, Sang pemberi kehidupan. Dari bayi merah tak berdaya, kita tumbuh dan berkembang. Bilangan2 yang kita lalui sebagai peringatan akan jalan kehidupan yang telah kita lalui. Raga kita berkembang, akan kah jiwa dan iman kita ikut tumbuh dan berkembang???
Mereka, dirimu, aku, dan dia, mempunyai cara yang berbeda dalam mewujudkan rasa syukur kita pada Yang Maha Kuasa. Dia pencipta langit, bumi dan seisinya....Dia Maha Pintar, apapun bentuk dan bagaimanapun cara kita bersyukur, Dia menerima dan Dia tak akan pernah salah. Mari kita bersandar hanya pada Dia, mohon bimbingan Nya agar kita semakin mengenal Dia dan berbakti kepada Nya. Marilah kita jalani kehidupan kita, pekerjaan kita, tugas tugas kita sebagai persembahan hidup kita pada Dia, karena kepadaNyalah kelak kita akan kembali. Dia begitu mengasihi kita. Kasih Nya begitu luar biasa.
Kita boleh menerima dan merasakan kasih cinta Nya, kita diciptakan menjadi manusia, diberi kesempatan hidup untuk menikmati segala keagungan ciptan Nya, alam semesta yg begitu elok. Diberi cinta dan kasihnya, baik melalui pengalaman iman maupun melalui orang2 terdekat...Terlebih melalui orang tua, saudara, suami, istri, anak2, kekasih dan sahabat. Tiada yang lebih indah dan membahagiakan selain hidup dalam Kasih Tuhan.
Begitupun aku, ku bersyukur pada Tuhan, aq boleh menerima sapaan Kasih Nya, melalui teman2 ku, keluargaku pada hari ini, hari dimana aq mengingat kembali waktu2 yang telah kulalui, waktu yang penuh dengan suka dan duka, susah senang. Semua aku syukuri, aku ikhlas menerima, karena memang itu sudah tertulis sebagai skenario kehidupan yang harus aku lakoni. Aku bahagia bersama Nya. Satu yg kumohon di hari ultahku ini, semoga Dia berkenan menurunkan Roh Kudus Nya, untuk membimbing aku, agar aku semakin mengenal Dia, berbakti kepada Nya dan aku selalu hidup seturut kehendakNya, krn kepada Nya kelak aku akan kembali. Amin.
Terimakasih untuk teman2ku, saudara2 ku, keluargaku atas perhatiannya, ucapannya, terlebih atas doa2 untukku dihari yang istimewa ini. Semoga kita semua senantiasa dilindungi dan diberikan rahmat kedamaian lahir dan batin. Tuhan memberkati.
Maaf ya, baru bisa bagi bagi gambarnya....hehehehe.
Salam kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)


