hidup bagai pelangi..penuh warna, terang gelap, jelas tersamar,berbaur..menuju titian tangga kehidupan......
Senin, 17 Maret 2014
BURUH GENDONG
Untuk persiapan menyambut Tahun Baru yang lalu, aku bersama beberapa teman sepakat berbelanja di sebuah pasar tradisional di sudut kota Semarang. Saat matahari masih memerah, bundar, kami sudah meluncur menembus kabut tipis yang tersibak angin, menuju passar. Sesampainya di pasar sudah lumayan ramai. Hiruk pikuk penjual dan pembeli memecahkan kesunyian pagi yang masih agak remang remang. Beberapa lampu masih menyala, menyapu wajah wajah yang kuyu karena kurang tidur demi mencari rupiah.
Beriringan memasuki pasar...menelusuri lorong disela sela pedagang...sebentar berhenti untuk memilih dan menawar. Tak terasa tangan ini mulai kerepotan membawa belanjaan. Seorang wanita paro baya, dengan pakaian lusuh, menggendong bakul menawarkan jasanya pada kami. "Bu, saya bantuin bawa belanjaannya'...kupandang sejenak wanita itu, lalu kuanggukkan kepala. Dengan setia dia mengikuti kami belanja, bakul yang digendongnya tak lama sudah mulai penuh. Aku tak tega, belanjaan yang ditanganku urung aku masukkan ke bakulnya. Akhirnya aku dan temanku selesai belanja, dan kami beriringan keluar pasar menuju tempat dimana mobil kami parkir.
Sambil memasukkan belanjaan ke mobil, aku bertanya pada wanita yang jadi buruh gendong itu. Diapun menceritakan kehidupannya.
Dia seorang istri dan ibu dari 2 anaknya yang sudah besar. Suaminya tinggal di desa pinggir kota Surakarta. Anaknya yang besar sudah berkeluarga dan bekerja di sebuah pabrik di daerah Tangerang. Suaminya bekerja sebagai penarik becak, tinggal dengan anak lelaki bungsunya yang masih sekolah di sebuah Sekolah Menengah, Anak lelakinya sering membantu ayahnya kerja serabutan.
"lha kok tinggalnya misah-misah dan berjauhan gitu kenapa?" tanyaku ... Wanita itu menceritakan bahwa dia dan suaminya mempunyai cita cita, supaya anak bungsu mereka kelak mempunyai penghidupan yang lebih baik dari orang tuanya. Sempat terlontar pertanyaan dariku, kenapa dia tidak memilih jadi pembantu rumah tangga. Dia beralasan, jadi pembantu rumah tangga itu kalau dapat majikan yang pengertian ya enak, tapi kalau tidak, malah jadi sengsara. Dia memilih menjadi buruh gendong, dia merasa lebih merdeka, bisa kapan saja pulang menengok keluarganya di kampung. Dia memilih kota Semarang sebagai tempat mengadu nasib, setelah dia mencoba di beberapa kota lainnya.
Waktu aku tanya berapa rata rata penghasilannya tiap hari. :"ya kalau pas rame, saya bisa dapat uang sampai 25 ribu keatas...tapi kalau sepi ya paling lima sampai sepuluh ribu"jawabnya.
Pendapatannya itu digunakan sebagian untuk makan, sebagian untuk bayar sewa, sebagian dikumpulkan untuk dibawa saat pulang kampung. Di Semarang dia hanya menyewa tempat untuk tidur saja, Tempat itu mirip sebuah barak, sebuah ruangan lumayan lebar, tanpa sekat sekat, digunakan untuk tidur beramai ramai,Orang orang yang menyewa ruangan itu dikenai tarip dua ribu rupiah perorang, permalam. Hidup mereka simple. mereka hanya butuh tempat berlindung dari hujan dan dinginnya malam untuk sekedar memejamkan mata dan melepas penat setelah sehari bekerja. Di tempat itu tak tersedia fasilita apapun. Hanya tikar saja. Mereka tidur berbantal tas pakaian masing masing. Untuk mck pun, mereka menggunakan fasilitas umum di pasar atau tempat umum lainnya.
Wanita itu sudah menjalani hari harinya di kota Semarang sebagai buruh gendong selama 4 tahun. Di saat ada kepentingan keluarga, baru dia pulang ke desa. Waktu aku bertanya, bagaimana situasi rumah tangganya, dia menjawab,bahwa rumah tangganya baik baik saja. Suami dan dirinya mempunyai kesadaran untuk saling setia, dan bahwa apa yang dilakukan adalah mencari uang dengan cara yang benar, demi masa depan anak mereka. Dan si anakpun tidak menyia nyiakan perjuangan orang tuanya. Anak lelakinya , tempat menaruh harapan, mempunyai prestasi yang baik di Sekolahnya.
Satu pembelajaran yang tak terduga aku dapatkan dari seorang buruh gendong.
Senin, 10 Maret 2014
SEPASANG NYIUR
Kau selalu disisiku, ku senantiasa disampingmu
Kita berdua seakan tak terpisahkan
Bersama kita berjuang dan bertahan
Asa takkan henti hingga akhir keabadian
Meski menghadang hantaman gelombang pasang
Takkan tumbang, karena akar yang menancap kokoh dalam perut bumi
Serabut akar terjalin berpilin, bergandengan bagai tangan pengantin
Itulah sumber kekuatan bagi batang tetap tegak bagai tiang pancang
Dikala angin membawa melodi cinta
Pelepah daun meliuk melambai menari nari
Bagaikan sepasang kekasih berdansa tiada henti
Menari diatas kanfas biru langit, memendarkan cahaya mentari
Lihatlah anak- anak manusia di bawah sana
Berteduh 'tuk lepaskan penat jiwa
Biarlah mereka beroleh pelepas dahaga
Agar mereka bertahan dan tak binasa
Kita berdua seakan tak terpisahkan
Bersama kita berjuang dan bertahan
Asa takkan henti hingga akhir keabadian
Meski menghadang hantaman gelombang pasang
Takkan tumbang, karena akar yang menancap kokoh dalam perut bumi
Serabut akar terjalin berpilin, bergandengan bagai tangan pengantin
Itulah sumber kekuatan bagi batang tetap tegak bagai tiang pancang
Dikala angin membawa melodi cinta
Pelepah daun meliuk melambai menari nari
Bagaikan sepasang kekasih berdansa tiada henti
Menari diatas kanfas biru langit, memendarkan cahaya mentari
Lihatlah anak- anak manusia di bawah sana
Berteduh 'tuk lepaskan penat jiwa
Biarlah mereka beroleh pelepas dahaga
Agar mereka bertahan dan tak binasa
Senin, 03 Maret 2014
PUNGUT
Pagi pagi benar lelaki itu sudah datang. Duduk setengah jongkok bersandar di tembok. Kudekati dia dan kuserahkan kontak mobil adikku padanya. Sengaja aku tak hendak menyetir sendiri, aku meminta bantuan lelaki itu untuk mengantarkan kami keliling Kota, dimana aku pernah melewati puluhan tahun dalam hidupku di kota ini. Aku ingin menelusuri kembali jalan jalan yang pernah aku lalui.....
Pagi itu aku ingin mengunjungi teman teman sewaktu aku masih mengajar di sebuah sekolah swasta. Aku bersyukur, meski terentang jarak dan waktu, keakraban dan persaudaraan kami tak putus. Masih saja heboh kalau bercanda.....hehehe....
Di sekolah itu kenangan akan para siswa yang menjadi muridku dengan berbagai polah tingkahnya yang khas anak anak muncul kembali...Aku bahagia dan bersyukur..meski mereka sudah ada yang kerja ataupun kuliah, masih ada yang sering kontak denganku...demikianpun walimurid.
Kangenku pada dunia pendidikan berpeluk keprihatinanku akan dunia pendidikan saat ini. Seperti lingkaran yang tak berujung....
"Bu...saya tadi ditanya oleh pak Satpam yang jaga".....aku tersadar oleh perkataan sopir. "Pak satpam tadi bertanya, apakah saya yang mengantar ibu, kemudian satpam itu bercerita bahwa ibu pernah ngajar disitu.....".aku jawab iya...
Entah jembatan kalimat yang mana aku tak ingat....dari tentang sekolah itu berujung ke cerita tentang kehidupan lelaki yang jadi sopir kami saat itu.
Lelaki itu bercerita, tentang mimpi mimpinya dimasa muda...tentang mimpi mimpi itu harus kandas karena dia lebih mementingkan menunggui orangtuanya yang sakit sakitan...dia tinggalkan ibu kota, dia tinggalkan kanfas kahidupannya disaat dirinya mulai melukis , merealisasikan keindahan akan mimpi mimpinya.
Kembali ke rumah orangtua, menemani, merawat hingga orang tuanya meninggal. Sejak orangtuanya meninggal, dia sebatang kara. Saat aku tanya, adakah sanak family lainnya?? "tidak ada bu......saya bukan anak kandung mereka, tapi anak angkat, makanya saya diberi nama "Pungut"..."
Aku terdiam.....dan aku makin terdiam saat kami melewati sebuah gubug bambu yang sudah mulai miring... Pungut menunjukkan bahwa itulah rumah warisan orangtua angkatnya. bahwa rumah itu berdiri diatas lahan sewa..... Duhhh.... Saat ini, di rumah itulah Pungut tinggal dengan istri dan anaknya. Istrinya yang jauh lebih tuapun tak soal bagi dia. Kehidupan yang amat sangat sederhana. Rumah gubug reyot diantara rumah rumah yang megah dan mewah. Sungguh sangat kontras. Apakah tuan tuan dan nyonya nyonya besar penghuni rumah mewah pernah peduli dengan kehidupan seorang Pungut??? semoga....
Ah....aku tak mau memikirkan mereka. Biarlah mereka hidup menurut pilihan mereka. Mereka yang bangga akan harta dan kemewahan juga gila hormat. Itu pilihan. Semoga merekapun siap menerima konsekuensi dari pilihannya itu.
Perjalananku menyusuri jalan dan lorong kota ini memperoleh banyak hal. Begitu banyak Pelajaran yang kuperoleh hari ini . Dan itu sangatlah berharga bagiku.
Satu pelajaran berharga tentang kehidupan dari seorang "Pungut"....Kesetiaan dan kasihnya pada orang tua, kerelaanya meninggalkan mimpi demi orang yang telah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang....Kesetiaan dalam kekurangan. Sanggupkah kita???
Setangkup doaku...semoga kaliyan beroleh kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Amin.
Pagi itu aku ingin mengunjungi teman teman sewaktu aku masih mengajar di sebuah sekolah swasta. Aku bersyukur, meski terentang jarak dan waktu, keakraban dan persaudaraan kami tak putus. Masih saja heboh kalau bercanda.....hehehe....
Di sekolah itu kenangan akan para siswa yang menjadi muridku dengan berbagai polah tingkahnya yang khas anak anak muncul kembali...Aku bahagia dan bersyukur..meski mereka sudah ada yang kerja ataupun kuliah, masih ada yang sering kontak denganku...demikianpun walimurid.
Kangenku pada dunia pendidikan berpeluk keprihatinanku akan dunia pendidikan saat ini. Seperti lingkaran yang tak berujung....
"Bu...saya tadi ditanya oleh pak Satpam yang jaga".....aku tersadar oleh perkataan sopir. "Pak satpam tadi bertanya, apakah saya yang mengantar ibu, kemudian satpam itu bercerita bahwa ibu pernah ngajar disitu.....".aku jawab iya...
Entah jembatan kalimat yang mana aku tak ingat....dari tentang sekolah itu berujung ke cerita tentang kehidupan lelaki yang jadi sopir kami saat itu.
Lelaki itu bercerita, tentang mimpi mimpinya dimasa muda...tentang mimpi mimpi itu harus kandas karena dia lebih mementingkan menunggui orangtuanya yang sakit sakitan...dia tinggalkan ibu kota, dia tinggalkan kanfas kahidupannya disaat dirinya mulai melukis , merealisasikan keindahan akan mimpi mimpinya.
Kembali ke rumah orangtua, menemani, merawat hingga orang tuanya meninggal. Sejak orangtuanya meninggal, dia sebatang kara. Saat aku tanya, adakah sanak family lainnya?? "tidak ada bu......saya bukan anak kandung mereka, tapi anak angkat, makanya saya diberi nama "Pungut"..."
Aku terdiam.....dan aku makin terdiam saat kami melewati sebuah gubug bambu yang sudah mulai miring... Pungut menunjukkan bahwa itulah rumah warisan orangtua angkatnya. bahwa rumah itu berdiri diatas lahan sewa..... Duhhh.... Saat ini, di rumah itulah Pungut tinggal dengan istri dan anaknya. Istrinya yang jauh lebih tuapun tak soal bagi dia. Kehidupan yang amat sangat sederhana. Rumah gubug reyot diantara rumah rumah yang megah dan mewah. Sungguh sangat kontras. Apakah tuan tuan dan nyonya nyonya besar penghuni rumah mewah pernah peduli dengan kehidupan seorang Pungut??? semoga....
Ah....aku tak mau memikirkan mereka. Biarlah mereka hidup menurut pilihan mereka. Mereka yang bangga akan harta dan kemewahan juga gila hormat. Itu pilihan. Semoga merekapun siap menerima konsekuensi dari pilihannya itu.
Perjalananku menyusuri jalan dan lorong kota ini memperoleh banyak hal. Begitu banyak Pelajaran yang kuperoleh hari ini . Dan itu sangatlah berharga bagiku.
Satu pelajaran berharga tentang kehidupan dari seorang "Pungut"....Kesetiaan dan kasihnya pada orang tua, kerelaanya meninggalkan mimpi demi orang yang telah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang....Kesetiaan dalam kekurangan. Sanggupkah kita???
Setangkup doaku...semoga kaliyan beroleh kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Amin.
Sabtu, 18 Januari 2014
Goresan disuatu waktu....
Hari ini seperti hari kemarin...cuaca mendung, aktifitas jadi sedikit terganggu...iseng aku buka - buka buku harianku, sekedar untuk mengenang hal hal yg telah kulalui...sebagai bahan refleksi diri....tiba tiba aku temukan goresan penaku saat itu.
Dalam kesesakan
Ke puncak bukit sepi...
Kutelusuri jalan yang sunyi
Kugapai pucuk daun berembun dengan harap sejukkan jiwaku...
Namun....
Langkahku surut dan terhenti...
Kususun tanya dalam hati sanubari
Kubisikkan lewat bayu yang membawa awan Kepada -Mu
Akankah embun itu untukku???
Tak ku dengar jawab Mu ...
Ataukah aku yang tiada rungu??
Sejenak ku ragu...akhirnya ku berlalu...
Kuayun langkah mendaki bukit ke puncak kesunyian
Kupanggul segala beban dengan sebuah harapan
Tapi ...jawaban tak jua aku dapatkan....
Alfa dan Omega...awal dan akhir...
berikan jawab -Mu pada doaku...
11 nop 2009
Aku tersenyum kecil....anganku sebentar malayang ke saat itu. Betapa waktu itu aku merasa ditinggalkan oleh Nya..betapa aku meragukan cinta Nya...Saat itu, aku begitu mendamba sesosok yang mau memikul beban bersamaku...yang selalu menyejukkan hatiku, bukan hanya seperti embun dipagi hari yang sirna saat matahari meninggi, namun bagai mata air yang tak pernah kering.
Kini...saat ini...tak ada lagi keraguan dihati...kini ku yakin akan cinta Mu. Aku telah dapatkan jawab dari Mu. memang embun itu bukan untukku, tapi kau beri aku sebuah mata air yang tak pernah kering...bening, sebening hatinya, setulus kasihnya yang selalu setia menyejukkan disaat gerah. Tak hanya menghilangkan dahagaku, namun mampu mengaliri untuk memberi kehidupan, mengalir menelusuri liku liku hidup sampai ke muara kehidupan...hingga nanti aku kembali pada - Mu... amin.
KUYAKIN KAN SELALU ADA JALAN. SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA. ^_^
Senin, 10 Desember 2012
ULANG TAHUN
Beberapa waktu lalu, kemarin, hari ini, besok, lusa, beberapa hari lagi....
.Mereka, dirimu, aku dan dia mengenang kembali saat kita terlahir dari rahim ibu kita, masuk dunia yang fana ini. Kita terlahir dari rahim yang berbeda, tapi kita dibentuk oleh Kuasa yang sama. Dia Sang Pencipta, Sang pemberi kehidupan. Dari bayi merah tak berdaya, kita tumbuh dan berkembang. Bilangan2 yang kita lalui sebagai peringatan akan jalan kehidupan yang telah kita lalui. Raga kita berkembang, akan kah jiwa dan iman kita ikut tumbuh dan berkembang???
Mereka, dirimu, aku, dan dia, mempunyai cara yang berbeda dalam mewujudkan rasa syukur kita pada Yang Maha Kuasa. Dia pencipta langit, bumi dan seisinya....Dia Maha Pintar, apapun bentuk dan bagaimanapun cara kita bersyukur, Dia menerima dan Dia tak akan pernah salah. Mari kita bersandar hanya pada Dia, mohon bimbingan Nya agar kita semakin mengenal Dia dan berbakti kepada Nya. Marilah kita jalani kehidupan kita, pekerjaan kita, tugas tugas kita sebagai persembahan hidup kita pada Dia, karena kepadaNyalah kelak kita akan kembali. Dia begitu mengasihi kita. Kasih Nya begitu luar biasa.
Kita boleh menerima dan merasakan kasih cinta Nya, kita diciptakan menjadi manusia, diberi kesempatan hidup untuk menikmati segala keagungan ciptan Nya, alam semesta yg begitu elok. Diberi cinta dan kasihnya, baik melalui pengalaman iman maupun melalui orang2 terdekat...Terlebih melalui orang tua, saudara, suami, istri, anak2, kekasih dan sahabat. Tiada yang lebih indah dan membahagiakan selain hidup dalam Kasih Tuhan.
Begitupun aku, ku bersyukur pada Tuhan, aq boleh menerima sapaan Kasih Nya, melalui teman2 ku, keluargaku pada hari ini, hari dimana aq mengingat kembali waktu2 yang telah kulalui, waktu yang penuh dengan suka dan duka, susah senang. Semua aku syukuri, aku ikhlas menerima, karena memang itu sudah tertulis sebagai skenario kehidupan yang harus aku lakoni. Aku bahagia bersama Nya. Satu yg kumohon di hari ultahku ini, semoga Dia berkenan menurunkan Roh Kudus Nya, untuk membimbing aku, agar aku semakin mengenal Dia, berbakti kepada Nya dan aku selalu hidup seturut kehendakNya, krn kepada Nya kelak aku akan kembali. Amin.
Terimakasih untuk teman2ku, saudara2 ku, keluargaku atas perhatiannya, ucapannya, terlebih atas doa2 untukku dihari yang istimewa ini. Semoga kita semua senantiasa dilindungi dan diberikan rahmat kedamaian lahir dan batin. Tuhan memberkati.
Maaf ya, baru bisa bagi bagi gambarnya....hehehehe.
Salam kasih.
.Mereka, dirimu, aku dan dia mengenang kembali saat kita terlahir dari rahim ibu kita, masuk dunia yang fana ini. Kita terlahir dari rahim yang berbeda, tapi kita dibentuk oleh Kuasa yang sama. Dia Sang Pencipta, Sang pemberi kehidupan. Dari bayi merah tak berdaya, kita tumbuh dan berkembang. Bilangan2 yang kita lalui sebagai peringatan akan jalan kehidupan yang telah kita lalui. Raga kita berkembang, akan kah jiwa dan iman kita ikut tumbuh dan berkembang???
Mereka, dirimu, aku, dan dia, mempunyai cara yang berbeda dalam mewujudkan rasa syukur kita pada Yang Maha Kuasa. Dia pencipta langit, bumi dan seisinya....Dia Maha Pintar, apapun bentuk dan bagaimanapun cara kita bersyukur, Dia menerima dan Dia tak akan pernah salah. Mari kita bersandar hanya pada Dia, mohon bimbingan Nya agar kita semakin mengenal Dia dan berbakti kepada Nya. Marilah kita jalani kehidupan kita, pekerjaan kita, tugas tugas kita sebagai persembahan hidup kita pada Dia, karena kepadaNyalah kelak kita akan kembali. Dia begitu mengasihi kita. Kasih Nya begitu luar biasa.
Kita boleh menerima dan merasakan kasih cinta Nya, kita diciptakan menjadi manusia, diberi kesempatan hidup untuk menikmati segala keagungan ciptan Nya, alam semesta yg begitu elok. Diberi cinta dan kasihnya, baik melalui pengalaman iman maupun melalui orang2 terdekat...Terlebih melalui orang tua, saudara, suami, istri, anak2, kekasih dan sahabat. Tiada yang lebih indah dan membahagiakan selain hidup dalam Kasih Tuhan.
Begitupun aku, ku bersyukur pada Tuhan, aq boleh menerima sapaan Kasih Nya, melalui teman2 ku, keluargaku pada hari ini, hari dimana aq mengingat kembali waktu2 yang telah kulalui, waktu yang penuh dengan suka dan duka, susah senang. Semua aku syukuri, aku ikhlas menerima, karena memang itu sudah tertulis sebagai skenario kehidupan yang harus aku lakoni. Aku bahagia bersama Nya. Satu yg kumohon di hari ultahku ini, semoga Dia berkenan menurunkan Roh Kudus Nya, untuk membimbing aku, agar aku semakin mengenal Dia, berbakti kepada Nya dan aku selalu hidup seturut kehendakNya, krn kepada Nya kelak aku akan kembali. Amin.
Terimakasih untuk teman2ku, saudara2 ku, keluargaku atas perhatiannya, ucapannya, terlebih atas doa2 untukku dihari yang istimewa ini. Semoga kita semua senantiasa dilindungi dan diberikan rahmat kedamaian lahir dan batin. Tuhan memberkati.
Maaf ya, baru bisa bagi bagi gambarnya....hehehehe.
Salam kasih.
Kamis, 22 November 2012
PENGEMIS
Seperti biasa setiap latihan aku pulang dengan naik taxi. Tapi kemarin sore mbak Tika ada bersamaku naik taxi, karena cuaca hujan. Sesaat waktu kami berhenti di traffic light, sopir taxi nyeletuk:" anak siapaaa itu, disuruh hujan hujanan cari duit??"..... Dengan spontan, aku dan mbak Tika mengikuti arah tangan pak sopir yang menunjuk pada seorang gadis kecil, sekitar 7 th. Rambut dan badannya dibiarkan basah. Gadis kecil itu mendekati pengendara motor sambil menadahkan tangan. Terenyuh hatiku melihat anak itu. Namun karena lampu hijau sudah menyala, anak itu tidak sempat menghampiri taxi kami.
Dalam perjalanan, kami berbincang tentang pengemis pengemis yang sering kami temui. Aku sendiri pernah melihat hal yang cukup menggelitik pikiranku. Seorang bocah lelaki, kecil...sekitar umur 5 th, dengan koran ditangan, mendekati pengendara sepeda motor, dan tanpa takut meletakkan koran itu di motor orang yang sedang berhenti di traffic light. Pengendara motor itu nampak kaget, dan bertanya"ini apa? untuk apa?' lalu si anak minta uang. tapi pengendara motor tidak mau menerima koran itu. Sesaat pandangan kualihkan ke pinggir jalan...ke trotoar...ada seorang ibu muda, sehat, duduk berhadapan dengan bocah perempuan sekitar 7 tahun. Ibu itu mengenakan jaket, dan menutupi sebagian wajahnya dengan jaket itu. Si bocah perempuan, nampak serius memperhatikan sesuatu dibawah wajah ibu muda yang tertunduk dan sedikit tertutup jaket itu. Ternyata si ibu itu sedang kutak kutik mainan hp.(telepon genggam) wooowww!!
Mbak Tika pun bercerita, bahwa suatu saat, dia melihat dan memergoki sendiri, bahwa pengemis pengemis itu ada yang mensuplai makanan. Pernah juga memergoki saat pengemis pengemis itu di "drop" di tempat "kerja" mereka. Duh!!
Kata mbak Tika, "makanya pengemisnya gemuk gemuk dik"hehehehehe.....juga disaat jam "istirahat" mereka bisa dengan santai bermain telepon genggam. Pengemis kita ternyata canggih, hehehehe...
"Itu belum seberapa mbak" kata pak sopir. Coba mbak perhatikan, mereka yang menari di traffic light itu. Penghasilan mereka mengalahkan pegawai lho. Mereka lebih pinter matematikanya daripada kita. Coba hitung saja, berapa kali lampu merah menyala, lamanya berapa detik. Sekali lampu menyala merah, ada yang memberi Rp.500 rupiah saja, sudah berapa per jam, per hari....??
Jadilah kami bertiga ikut ikutan "menghitung"hehehehe... Jumlahnya begitu fantastik.
Memang jika di kota kota, banyak orang yang mengemis sebagai mata pencaharian, sebagai profesi. Ada yang sahat, ada yang cacat, ada yang pura pura sakit, dll.....Banyak mereka yang memiliki rumah lebih dari layak. Bahkan memiliki kendaraan bermotor. Tapi disisi lain, ada juga orang yang sungguh sungguh kekurangan. Seperti pengalaman beberapa waktu lalu, yang membuat air mataku mengalir.
Waktu kami melewati kota Temanggung, hari sudah larut malam. Karena lelah dan ngantuk, kami putuskan untuk mencari restoran yang masih buka. Sebelum masuk ke restoran, tiba tiba pandanganku menatap sesosok perempuan yang sudah tua, berjarak sekitar 20 m di depanku. Perempuan tua itu sedang membentangkan tikar di depan sebuah ruko yang sudah tutup. Waktu kami keluar dari resto, dan kendaraanku melewati ruko itu, mataku menatap wanita tua itu, dan sepertinya wanita tua itu juga melihatku. Pandangan matanya mengingatkanku pada sosok ibuku yang telah tiada. Rambutnya memutih, memakai baju berlapis lapis, mungkin untuk menahan udara dingin. Dia duduk, disampingnya ada buntelan kain...dia duduk berselonjor.
Pandangan mata wanita tua itu mengingatkanku pada ibuku yang beberapa tahum lalu telah tiada. Air mataku mengalir. Akhirnya aku tidak tahan, putar balik arah aku kembali menghampiri wanita tua itu. Kuulurkan sedikit tanda kasihku padanya.
Lain waktu, aku dikirimi foto dari sahabatku...dia sempat memotret seorang lelaki muda yang mengais tempat sampah untuk mencari sisa sisa makan, dan langsung dimakan. Duh!!. Jika kita melihat seperti itu, apa yang kita lakukan?? Cukup memandangnya dengan iba?? Atau berani melakukan sesuatu ??
Tak akan habis cerita tentang pengemis dinegeriku yang subur ini. Apa penyebabnya??? Harus bagaimana "mendandani"mereka?? Mengubah pola pikir mereka?? Mencegah supaya "penyakit"itu tidak mewabah?? Apa yang salah dengan di negriku ini?? Jawabnya....???
Dalam perjalanan, kami berbincang tentang pengemis pengemis yang sering kami temui. Aku sendiri pernah melihat hal yang cukup menggelitik pikiranku. Seorang bocah lelaki, kecil...sekitar umur 5 th, dengan koran ditangan, mendekati pengendara sepeda motor, dan tanpa takut meletakkan koran itu di motor orang yang sedang berhenti di traffic light. Pengendara motor itu nampak kaget, dan bertanya"ini apa? untuk apa?' lalu si anak minta uang. tapi pengendara motor tidak mau menerima koran itu. Sesaat pandangan kualihkan ke pinggir jalan...ke trotoar...ada seorang ibu muda, sehat, duduk berhadapan dengan bocah perempuan sekitar 7 tahun. Ibu itu mengenakan jaket, dan menutupi sebagian wajahnya dengan jaket itu. Si bocah perempuan, nampak serius memperhatikan sesuatu dibawah wajah ibu muda yang tertunduk dan sedikit tertutup jaket itu. Ternyata si ibu itu sedang kutak kutik mainan hp.(telepon genggam) wooowww!!
Mbak Tika pun bercerita, bahwa suatu saat, dia melihat dan memergoki sendiri, bahwa pengemis pengemis itu ada yang mensuplai makanan. Pernah juga memergoki saat pengemis pengemis itu di "drop" di tempat "kerja" mereka. Duh!!
Kata mbak Tika, "makanya pengemisnya gemuk gemuk dik"hehehehehe.....juga disaat jam "istirahat" mereka bisa dengan santai bermain telepon genggam. Pengemis kita ternyata canggih, hehehehe...
"Itu belum seberapa mbak" kata pak sopir. Coba mbak perhatikan, mereka yang menari di traffic light itu. Penghasilan mereka mengalahkan pegawai lho. Mereka lebih pinter matematikanya daripada kita. Coba hitung saja, berapa kali lampu merah menyala, lamanya berapa detik. Sekali lampu menyala merah, ada yang memberi Rp.500 rupiah saja, sudah berapa per jam, per hari....??
Jadilah kami bertiga ikut ikutan "menghitung"hehehehe... Jumlahnya begitu fantastik.
Memang jika di kota kota, banyak orang yang mengemis sebagai mata pencaharian, sebagai profesi. Ada yang sahat, ada yang cacat, ada yang pura pura sakit, dll.....Banyak mereka yang memiliki rumah lebih dari layak. Bahkan memiliki kendaraan bermotor. Tapi disisi lain, ada juga orang yang sungguh sungguh kekurangan. Seperti pengalaman beberapa waktu lalu, yang membuat air mataku mengalir.
Waktu kami melewati kota Temanggung, hari sudah larut malam. Karena lelah dan ngantuk, kami putuskan untuk mencari restoran yang masih buka. Sebelum masuk ke restoran, tiba tiba pandanganku menatap sesosok perempuan yang sudah tua, berjarak sekitar 20 m di depanku. Perempuan tua itu sedang membentangkan tikar di depan sebuah ruko yang sudah tutup. Waktu kami keluar dari resto, dan kendaraanku melewati ruko itu, mataku menatap wanita tua itu, dan sepertinya wanita tua itu juga melihatku. Pandangan matanya mengingatkanku pada sosok ibuku yang telah tiada. Rambutnya memutih, memakai baju berlapis lapis, mungkin untuk menahan udara dingin. Dia duduk, disampingnya ada buntelan kain...dia duduk berselonjor.
Pandangan mata wanita tua itu mengingatkanku pada ibuku yang beberapa tahum lalu telah tiada. Air mataku mengalir. Akhirnya aku tidak tahan, putar balik arah aku kembali menghampiri wanita tua itu. Kuulurkan sedikit tanda kasihku padanya.
Lain waktu, aku dikirimi foto dari sahabatku...dia sempat memotret seorang lelaki muda yang mengais tempat sampah untuk mencari sisa sisa makan, dan langsung dimakan. Duh!!. Jika kita melihat seperti itu, apa yang kita lakukan?? Cukup memandangnya dengan iba?? Atau berani melakukan sesuatu ??
Tak akan habis cerita tentang pengemis dinegeriku yang subur ini. Apa penyebabnya??? Harus bagaimana "mendandani"mereka?? Mengubah pola pikir mereka?? Mencegah supaya "penyakit"itu tidak mewabah?? Apa yang salah dengan di negriku ini?? Jawabnya....???
Langganan:
Postingan (Atom)

