Kamis, 10 April 2014

Cinta Mu setia dan abadi

 Saat kubuka pintu rumahku, kuterpana pada keagungan karya Mu

Kau selimuti alam di depan rumahku dengan kabut...putih..bersih...suci..

Burung burung enggan terbang, nyaman dalam pelukan hangat Mu

Pepohonan bagai tertidur lelap dibalik kelambu

 

Namun pujian bagi Mu tiada henti

mengalun lembut menyentuh relung kalbuku

Burung menyanyikan pujian dari peraduannya 

Kokok ayam hutan sayup kudengar di kejauhan

 Jengkerikpun tak henti menggelitik bumi untuk memuji Mu

      

      Dipagi yang indah dan hening ini Kau berikan cinta sempurna

      Diiringi melodi titik titik embun yang jatuh menyentuh dedaunan

      Bersama tiupan lembut sang bayu, sejuk menyentuh relung jiwaku

      Ditemani seekor tekukur yang hinggap  didepan rumahku

       

       Bersama mereka kulambungkan pujian bagi Mu

       Terimakasih atas pagi yang selalu indah

       Syukur atas sapaan Mu melalui alam semesta yang begitu indah

       Kau begitu mencintai aku... cinta yang sempurna...setia dan abadi

 

Aku ingin menyebut nama Mu disetiap tarikan nafasku

Aku ingin selalu merasa dekat dan damai bersama Mu

Kau menjagaku dari seteru jahat yang terlihat dan tak terlihat

Agar hidupku berkenan dan jiwaku selamat.

     

     Turunkanlah Roh Mu padaku agar aku lebih mengenal Mu

     Ajarilah dan bimbinglah agar makin mencintai Mu

     Mencintai dan mengasihi sesama dan segala ciptaan Mu 

     Sebagaimana Engkau  setia mencintaiku dengan segala kekuranganku

 

Engkau Maha Kuasa, yang mengerti sagala bahasa dan cara

Bimbinglah dan bukalah hati semua manusia

Engkau Sang Maha cinta .... cinta Mu setia dan abadi

Semaikanlah...suburkanlah kasih suci dalam setiap nurani.



Kamis, 03 April 2014

KUYAKIN CINTAMU

 

 Pagi itu langit tampak mendung

Tapi langit di hatiku biru, sebiru rindumu padaku

Matahari pagi enggan menyapa, duniapun lesu

Tapi cinta sucimu senantiasa setia menerangi kalbuku

         

        Maafkan bila sering membuatmu bingung

         Bingung bagaimana meyakinkan hatiku

         Namun kau pantang menyerah buat hatiku terbuka

         Maafkan bila membuatmu lelah tuk buatku percaya

 

 Kini perjuanganmu telah usai

Kau bukakan hati, kau sibakkan tirai


 Air mata bahagia mengalir bagai sungai

Semoga Tuhan menjaga agar cinta tak pernah usai

      

      Pada Mu Tuhan aku bersyukur dan berserah

      Kau berikan aku anugerah terindah

      Berkatilah, bimbinglah...dan lindungilah

      Satukan hati dan jiwa walaupun raga terpisah

 

                                                                             

Rabu, 26 Maret 2014

Kabar Suka Cita

      Tanggal 25 Maret , gereja memperingati Hari Raya Kabar Sukacita, dimana seorang perawan bernama Maria dipilih Tuhan untuk menjalankan tugas yang sungguh berat tetapi sangat mulia. Disaat Maria menerima tugas yang disampaikan Malaekat Gabriel, Maria menjawab:"aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu" Mungkin saat itu Maria tidak terbayang apa yang hendak dialami dan bagaimana dia harus menjalani tugasnya itu. Tetapi Maria seorang yang konsisten dengan ucapannya itu. Dia jalani tugasnya dengan penuh keyakinan dan ketaatan pada kehendak Tuhan. Dia seorang pribadi yang taat pada Tuhan, sederhana, rendah hati, tekun berdoa, tahan dalam penderitaan, dan menyimpan segala perkara didalam hatinya. Semua dijalani dengan penuh ketulusan dan ketaatan pada Tuhan. Dia rela menjalankan tugasnya, agar rencana Tuhan untuk keselamatan umat manusia terlaksana.Dan atas kesediaan Maria melakukan kehendakNya, Maria memperoleh kemuliaan yang abadi. Maria menjadi Bunda gereja.

Banyak umat yang berdoa memohon bantuan Bunda Maria dalam permasalahan yang dihadapinya. Kita sering berdoa, berdevosi kepada Bunda Maria. Tapi berapa diantara kita yang mencoba meneladani sikap hidup Bunda Maria?? Menjadi pribadi yang sederhana...tulus...taat dan tekun berdoa....rela menderita demi kebaikan orang orang yang kita kasihi....??menyimpan segala perkara dalam hati??

  • Apakah selama ini kita hidup sederhana?? Sepenuh hati mensyukuri segala anugerah Tuhan?? Diantara kita masih banyak yang berambisi untuk mempunyai kehidupan yang mewah, glamour, ingin dibilang "wah" "hebat"  bahkan demi sebuah prestise rela melakukan segala macam cara.. Kelekatan pada kemewahan dunia akan menyesatkan jiwa

  • Sudahkah kita tulus dalam melakukan sesuatu?? Banyak orang melakukan kebaikan dengan pamrih. Ingin dipuji, nama baik, ingin mendapat dukungan publik dll. Lebih runyam lagi, melakukan segala sesuatu dengan penuh perhitungan, perhitungan untung dan rugi. Jika melakukan kebaikan lakukanlah demi kebaikan itu sendiri, dengan tulus tanpa pamrih apapun

  • Sudahkah kita tekun dalam doa?? rutin berdoa?? Selalu berdoa dalam keadaan apapun...baik saat senang maupun saat susah dan menderita. Hanya Tuhanlah sumber kekuatan kita.

  • Disaat kita menghadapi penderitaan, kekecewaan, bisakah kita menerima dengan ikhlas?? ataukah kita mencaci, memaki bersumpah serapah pada keadaan dan pada orang yang kita anggap sumber dari masalah kita?? segala permasalahan yang kita terima, adalah alat untuk menempa jiwa kita menjadi kuat. Semakin kita mengandalkan campur tangan Nya saja, bukan mengandalkan yang lain.

  • Menyimpan segala perkara dalam hati. Menep.Betapa banyak wanita yang sulit melakukan sikap ini. Banyak sekarang yang keras hati, dan mudah meluapkan emosi. Mengumbar cerita palsu. menceritakan aib orang lain, bahkan tak malu curhat kemana mana. Kenapa tidak curhat pada Tuhan?? dalam keheningan, dengan batin yang menep, akan mampu mendengar suara Nya..bimbinganNya..Cinta Nya....

      Ya Tuhan turunkanlah Roh Kudus Mu, agar kami semakin mengenal Engkau dengan benar dan hidup seturut Kehendak Mu. Bimbinglah agar kami mau dan mampu untuk meneladani sikap Bunda Maria dengan menyerahkan kehidupan kami dalam kebijaksanaan Mu, jadikanlah aku alat Mu yang baik, terjadilah padaku seturut kehendak Mu. amin

  • Yang bertahan dalam penderitaan karena kebenaran, akan beroleh kemuliaan.

Kamis, 20 Maret 2014

Kisah Kenanga

     Sudah ketentuan alam, diberikannya bakal pohon kenanga untuk kau tanam di kebun cintamu. Kenanga berbatang kokoh, berdaun lembut bagai beledu , sebuah bibit kenanga yang menjanjikan bunga bunga indah pengharum kamar tidurmu, penghias taman pekaranganmu, perindang disaat panas.

     Kau tanam Kenanga ditamanmu. Kenanga itu hidup oleh perjuangannya sendiri. Kau tanam, namun jarang kau siram, tak pula kau pupuk. Kenanga terus tumbuh dan tetap memberikan harum wangi bunganya. Tak pernah kau sadari bagaimana dia bertahan hidup. Tak kau sadari bagaimana dia tetap memberikan wangi bunganya untukmu, keindahan, untuk tamanmu. Jikalau daun mulai layu, kenanga menatap langit dan meminta diturunkannya hujan, agar segarlah kembali jiwanya. Tatkala ulat ulat menggerogoti daun beledunya, dia berharap pelatuk datang dan memagut ulat ulat. Disaat kelelahan dan letih menyergap, kupu kupu datang menghiburnya, menari nari dikelopak bunganya.

     Taukah kau?? pergulatan akar akar kenanga dalam menemukan air sumber kehidupannya?? kadang dia terluka oleh tajamnya bebatuan, namun kadang dia bertemu cacing cacing tanah yang sedikit membuat langkahnya lebih ringan?? Sungguh!! dia menyadari tak bisa menggantungkan hidupnya padamu. Dia, si kenanga, tetap tumbuh subur dan memberikan bunga indah nan wangi. Kau senang memandang dan mencium wanginya, namun kaupun tak kuasa menepis keindahan bunga lainnya. Hingga suatu masaaa....

     Tanpa sebab yang jelas, kau cabut kenanga itu dan mencampakkannya dalam tumpukan sampah. Kau cabik cabik putus akar akarnya. Kau biarkan dia terkulai layu dan hampir mati. Namun atas kehendak Nya, seseorang mengambil kenanga yang nyaris mati itu. Kau diam! Orang itu menanam kembali kenanga itu di dekat pagar kebunmu. Kau diam, memandang sinis!! Tiap kali lewat, dia menyirami kenanga itu, sesekali memupuknya.. Kaupun hanya memandang dalam diam.

     Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan tahun. Kenanga tumbuh subur, berbunga lebat dan harum wangi bunganya menyebar. Batangnya tumbuh kokoh, dahan, rantingnya rimbun hingga menaungi tepi jalan, memberikan sebagian batang pohonya untuk bersandar bagi tubuh yang letih dan berteduh bagi anak anak dari teriknya matahari.

     Saat itulah kau tersadar, betapa indah kenanga itu, Hatimu mulai gelisah.Kau mulai dengarkan celoteh tetangga. Munculah sifat egomu. Kau tak rela kenangamu jd tempat berteduh banyak orang, kau tak rela orang itu memetik sedikit bunga kenanga pada ranting diluar pagarmu. Kau ingin menguasai kembali kenanga yang pernah kau campakkan. Seutuhnya.!!Kau ingin dahan dan rantingnya semua ada dalam genggamanmu. Lakukanlah, kalau itu maumu,karena kenanga itu tumbuh dipekaranganmu. Tapi pernahkah kau berfikir?? dengan memaksakan keinginanmu itu membuat dahan dan rantingnya patah?? Bahkan mungkin akarnya ikut tercabut dan membuatnya mati!! Renungkanlah!! Dengarkan suara hatimu, yang halus. Jangan kau turutkan celoteh tetangga. Jadilah orang yang teguh dalam pendirian, Konsisten. Jagalah segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepadamu. Menyesal kemudian tiada berarti.

     Segala sesuatu di dunia ini sudah ada yang mengatur. Kita seperti pemain sandiwara. Punya perannya masing masing. Jika orang lain memakai kostum terbalik, wajiblah kita mengingatkan. Bila ada yang kesulitan memerankan lakonnya, bolehlah kita bantu. Tapi janganlah kita ikut mengatur jalannya cerita. Karena jalan cerita kehidupan tiap orang

sudah diatur oleh Sang Sumber Kehidupan itu sendiri. Biarkanlah kenanga itu pada tempatnya. Biarkan anak anak berteduh dibawahnya, berlindung dari teriknya matahari. Biarkanlah orang yang lewat memungut bunga bunganya yang jatuh ke tanah. Biarkan burung burung berkicau di dahannya. :)


Senin, 17 Maret 2014

Bukit Cinta

     Sejenak dalam saat hening . Matahari belum nampak. Burung burung berkicau merdu, bersaut sautan...sesekali ditimpa kokok ayam dikejauhan... Cicak pohonpun tak mau ketinggalan...

     Udara pagi merasuk menelusuri pori pori kehidupan. Lembut...halus....menyentuh jiwa... Kurasakan dingin yang menyejukkan...semilir....mengalirkan kidung pujian...

     Dikeheningan hati, diantara riuh rendah dendang nyanyian alam semesta kudengar lembut suara ranting dan daun luruh ke bumi. Lembut....halus....bagaikan lagu persembahan, kepasrahan dan kerinduan pada Sang Pengatur Kehidupan... 

     Bersyukur atas cintaNya yang tak tebatas, tercipta sebagai manusia...atas kesempatan untuk mengagumi ciptaan Nya....karena boleh merasakan sentuhan cinta Nya yang luar biasa melalui orang tua, saudara, teman, dan orang orang yang mengasihi dan kukasihi. Terlebih atas cinta Nya melalui dirimu. Hatiku menyanyikan kidung Pujian Bagi Nya.

     Kubuka mataku....dan kau ada didepanku, tersenyum penuh kasih. Kau ulurkan tanganmu membimbingku untuk menyongsong matahari terbit dibukit kecil itu. Kaki kaki telanjang kita menyibak rumput rumput basah bermandi embun. Berlari kecil kita bersama...sambil bercanda ria...sambil sesekali saling meledek sayang. Kau dan aku berlomba untuk mengabadikan sunrise yang mulai muncul dari tempat persembunyiannya yang malu malu bagai pengantin baru keluar dari peraduan.

     Dibukit itu, kita sering menghabiskan waktu untuk bicara banyak hal, tentang manusia dan alam semesta, tentang cinta....cinta sesama...cinta kepada alam semesta...cinta yang luas dan agung.

     Dari bukit kulihat view yang sangat indah, seindah cintamu dan cintaku dalam cinta Nya. Cinta didalam Tuhan akan senantiasa dijaga. Bunga warna warni bermekaran, pucuk pucuk bersemi, petani petani memulai aktifitasnya. Senyum tulus mereka menyapa kita. 

     Bergandengan menuruni bukit cinta, menyongsong hari baru, dengan penuh kesetiaan mengisi hari hari dengan cinta  yang tulus, berkarya untuk sesama dengan bimbingan Dia, berserah,dan  berharap pada Dia.


 

 

BURUH GENDONG

     Untuk persiapan menyambut Tahun Baru yang lalu,  aku bersama beberapa teman sepakat berbelanja di sebuah pasar tradisional di sudut kota Semarang. Saat matahari masih memerah, bundar, kami sudah meluncur menembus kabut tipis yang tersibak angin, menuju passar. Sesampainya di pasar sudah lumayan ramai. Hiruk pikuk penjual dan pembeli memecahkan kesunyian pagi yang masih agak remang remang. Beberapa lampu masih menyala, menyapu wajah wajah yang kuyu karena kurang tidur demi mencari rupiah.

     Beriringan memasuki pasar...menelusuri lorong disela sela pedagang...sebentar berhenti untuk memilih dan menawar. Tak terasa tangan ini mulai kerepotan membawa belanjaan. Seorang wanita paro baya, dengan pakaian lusuh, menggendong bakul menawarkan jasanya pada kami. "Bu, saya bantuin bawa belanjaannya'...kupandang sejenak wanita itu, lalu kuanggukkan kepala. Dengan setia dia mengikuti kami belanja, bakul yang digendongnya tak lama sudah mulai penuh. Aku tak tega, belanjaan yang ditanganku urung aku masukkan ke bakulnya. Akhirnya aku dan temanku selesai belanja, dan kami beriringan keluar pasar menuju tempat dimana mobil kami parkir.

     Sambil memasukkan belanjaan ke mobil, aku bertanya pada wanita yang jadi buruh gendong itu. Diapun menceritakan kehidupannya.

Dia seorang istri dan ibu dari 2 anaknya yang sudah besar. Suaminya tinggal di desa pinggir kota Surakarta. Anaknya yang besar sudah berkeluarga dan bekerja di sebuah pabrik di daerah Tangerang. Suaminya bekerja sebagai penarik becak, tinggal dengan anak lelaki bungsunya yang masih sekolah di sebuah Sekolah Menengah, Anak lelakinya sering membantu ayahnya kerja serabutan.

     "lha kok tinggalnya misah-misah dan berjauhan gitu kenapa?" tanyaku ... Wanita itu menceritakan bahwa dia dan suaminya mempunyai cita cita, supaya anak bungsu mereka kelak mempunyai penghidupan yang lebih baik dari orang tuanya. Sempat terlontar pertanyaan dariku, kenapa dia tidak memilih jadi pembantu rumah tangga. Dia beralasan, jadi pembantu rumah tangga itu kalau dapat majikan yang pengertian ya enak, tapi kalau tidak, malah jadi sengsara. Dia memilih menjadi buruh gendong, dia merasa lebih merdeka, bisa kapan saja pulang menengok keluarganya di kampung. Dia memilih kota Semarang sebagai tempat mengadu nasib, setelah dia mencoba di beberapa kota lainnya.

    Waktu aku tanya berapa rata rata penghasilannya tiap hari. :"ya kalau pas rame, saya bisa dapat uang sampai 25 ribu keatas...tapi kalau sepi ya paling lima  sampai sepuluh ribu"jawabnya.

Pendapatannya itu digunakan sebagian untuk makan, sebagian untuk bayar sewa, sebagian dikumpulkan untuk dibawa saat pulang kampung. Di Semarang dia hanya menyewa tempat untuk tidur saja, Tempat itu mirip sebuah barak, sebuah ruangan lumayan lebar, tanpa sekat sekat, digunakan untuk tidur beramai ramai,Orang orang yang menyewa ruangan itu dikenai tarip dua ribu rupiah perorang, permalam. Hidup mereka simple. mereka hanya butuh tempat berlindung dari hujan dan dinginnya malam untuk sekedar memejamkan mata dan melepas penat setelah sehari bekerja. Di tempat itu tak tersedia fasilita apapun. Hanya tikar saja. Mereka tidur berbantal tas pakaian masing masing. Untuk mck pun, mereka menggunakan fasilitas umum di pasar atau tempat umum lainnya.

    Wanita itu sudah menjalani hari harinya di kota Semarang sebagai buruh gendong selama 4 tahun. Di saat ada kepentingan keluarga, baru dia pulang ke desa. Waktu aku bertanya, bagaimana situasi rumah tangganya, dia menjawab,bahwa rumah tangganya baik baik saja. Suami dan dirinya mempunyai kesadaran untuk saling setia, dan bahwa apa yang dilakukan adalah mencari uang dengan cara yang benar, demi masa depan anak mereka. Dan si anakpun tidak menyia nyiakan perjuangan orang tuanya. Anak lelakinya , tempat menaruh harapan, mempunyai prestasi yang baik di Sekolahnya.

     Satu pembelajaran yang tak terduga aku dapatkan dari seorang buruh gendong.

Senin, 10 Maret 2014

SEPASANG NYIUR

     Kau selalu disisiku, ku senantiasa disampingmu
     Kita berdua seakan tak terpisahkan
     Bersama kita berjuang dan bertahan
     Asa takkan henti hingga akhir keabadian

            Meski menghadang hantaman gelombang pasang

           Takkan tumbang, karena akar yang menancap kokoh dalam perut bumi
            Serabut akar terjalin berpilin, bergandengan bagai tangan pengantin
            Itulah sumber kekuatan bagi batang tetap tegak bagai tiang pancang

                          Dikala angin membawa melodi cinta

                          Pelepah daun meliuk melambai menari nari
                          Bagaikan sepasang kekasih berdansa tiada henti
                            Menari diatas kanfas biru langit, memendarkan cahaya mentari

    
     Lihatlah anak- anak manusia di bawah sana
      Berteduh 'tuk lepaskan penat jiwa
      Biarlah mereka beroleh  pelepas dahaga
      Agar mereka bertahan dan tak binasa

   

Senin, 03 Maret 2014

PUNGUT

     Pagi pagi benar lelaki itu sudah datang. Duduk setengah jongkok bersandar di tembok. Kudekati dia dan kuserahkan kontak mobil adikku padanya. Sengaja aku tak hendak menyetir sendiri, aku meminta bantuan lelaki itu untuk mengantarkan kami keliling Kota, dimana aku pernah melewati puluhan tahun dalam hidupku di kota ini. Aku ingin menelusuri kembali jalan jalan yang pernah aku lalui.....
     Pagi itu aku ingin mengunjungi teman teman sewaktu aku masih mengajar di sebuah sekolah swasta. Aku bersyukur, meski terentang jarak dan waktu, keakraban dan persaudaraan kami tak putus. Masih saja heboh kalau bercanda.....hehehe....
    Di sekolah itu kenangan akan para siswa yang menjadi muridku dengan berbagai polah tingkahnya yang khas anak anak muncul kembali...Aku bahagia dan bersyukur..meski mereka sudah ada yang kerja ataupun kuliah, masih ada yang sering kontak denganku...demikianpun walimurid.
    Kangenku pada  dunia pendidikan berpeluk keprihatinanku akan dunia pendidikan saat ini. Seperti lingkaran yang tak berujung....
    "Bu...saya tadi ditanya oleh pak Satpam yang jaga".....aku tersadar oleh perkataan sopir.  "Pak satpam tadi bertanya, apakah saya yang mengantar ibu, kemudian satpam itu bercerita bahwa ibu pernah ngajar disitu.....".aku jawab iya... 
Entah jembatan kalimat yang mana aku tak ingat....dari tentang sekolah itu berujung ke cerita tentang kehidupan lelaki yang jadi sopir kami saat itu.
    
    Lelaki itu bercerita, tentang mimpi mimpinya dimasa muda...tentang mimpi mimpi itu harus kandas karena dia lebih mementingkan menunggui orangtuanya yang sakit sakitan...dia tinggalkan ibu kota, dia tinggalkan kanfas kahidupannya disaat dirinya mulai melukis , merealisasikan keindahan akan mimpi mimpinya.
    Kembali ke rumah orangtua, menemani, merawat hingga orang tuanya meninggal. Sejak orangtuanya meninggal, dia sebatang kara. Saat aku tanya, adakah sanak family lainnya?? "tidak ada bu......saya bukan anak kandung mereka, tapi anak angkat, makanya saya diberi nama "Pungut"..."
      Aku terdiam.....dan aku makin terdiam saat kami melewati sebuah gubug bambu yang sudah mulai miring... Pungut menunjukkan bahwa itulah rumah warisan orangtua angkatnya. bahwa rumah itu berdiri diatas lahan sewa..... Duhhh.... Saat ini, di rumah itulah Pungut tinggal dengan istri dan anaknya. Istrinya yang jauh lebih tuapun tak soal bagi dia. Kehidupan yang amat sangat sederhana. Rumah gubug reyot diantara rumah rumah yang megah dan mewah. Sungguh sangat kontras. Apakah tuan tuan dan nyonya nyonya besar penghuni rumah mewah pernah peduli dengan kehidupan seorang Pungut??? semoga....
    Ah....aku tak mau memikirkan mereka. Biarlah mereka hidup menurut pilihan mereka. Mereka yang bangga akan harta dan kemewahan juga gila hormat. Itu pilihan. Semoga merekapun siap menerima konsekuensi dari pilihannya itu.
     Perjalananku menyusuri jalan dan lorong kota ini memperoleh banyak hal. Begitu banyak Pelajaran yang kuperoleh hari ini . Dan itu sangatlah berharga bagiku.
    Satu pelajaran berharga tentang kehidupan dari seorang "Pungut"....Kesetiaan dan kasihnya pada orang tua, kerelaanya meninggalkan mimpi demi orang yang telah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang....Kesetiaan dalam kekurangan. Sanggupkah kita???

Setangkup doaku...semoga kaliyan beroleh kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Amin.
   
   

Sabtu, 18 Januari 2014

Goresan disuatu waktu....


       Hari ini seperti hari kemarin...cuaca mendung, aktifitas jadi sedikit terganggu...iseng aku buka - buka buku harianku, sekedar untuk mengenang hal hal yg telah kulalui...sebagai bahan refleksi diri....tiba tiba aku temukan goresan penaku saat itu.

  







            Dalam kesesakan

Ke puncak bukit sepi...
Kutelusuri jalan yang sunyi
Kugapai pucuk daun berembun dengan harap sejukkan jiwaku...


Namun....
Langkahku surut dan terhenti...
Kususun tanya dalam hati sanubari
Kubisikkan lewat bayu yang membawa awan Kepada -Mu
Akankah embun itu untukku???

Tak ku dengar  jawab Mu ...
Ataukah aku yang tiada rungu??
Sejenak ku ragu...akhirnya ku berlalu...

Kuayun langkah mendaki bukit ke puncak kesunyian
Kupanggul segala beban dengan sebuah harapan
Tapi ...jawaban tak jua aku dapatkan....

Alfa dan Omega...awal dan akhir...
berikan jawab -Mu pada doaku...
                                                       11 nop 2009


   Aku tersenyum kecil....anganku sebentar malayang ke saat itu. Betapa waktu itu aku merasa ditinggalkan oleh Nya..betapa aku meragukan cinta Nya...Saat itu, aku begitu mendamba sesosok yang mau memikul beban bersamaku...yang selalu menyejukkan hatiku, bukan hanya seperti embun dipagi hari yang sirna saat matahari meninggi, namun bagai mata air yang tak pernah kering.

   Kini...saat ini...tak ada lagi keraguan dihati...kini ku yakin akan cinta Mu. Aku telah dapatkan jawab dari Mu. memang embun itu bukan untukku, tapi kau beri aku sebuah mata air yang tak pernah kering...bening, sebening hatinya, setulus kasihnya yang selalu setia menyejukkan disaat gerah. Tak hanya menghilangkan dahagaku, namun mampu mengaliri untuk memberi kehidupan, mengalir menelusuri liku liku hidup sampai ke muara kehidupan...hingga nanti aku kembali pada - Mu... amin.




KUYAKIN KAN SELALU ADA JALAN. SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA. ^_^





Senin, 10 Desember 2012

ULANG TAHUN

     Beberapa waktu lalu, kemarin, hari ini, besok, lusa, beberapa hari lagi....
.Mereka, dirimu, aku dan dia mengenang kembali saat kita terlahir dari rahim ibu kita, masuk dunia yang fana ini. Kita terlahir dari rahim yang berbeda, tapi kita dibentuk oleh Kuasa yang sama. Dia Sang Pencipta, Sang pemberi kehidupan. Dari bayi merah tak berdaya, kita tumbuh dan berkembang. Bilangan2 yang kita lalui sebagai peringatan akan jalan kehidupan yang telah kita lalui. Raga kita berkembang, akan kah jiwa dan iman kita ikut tumbuh dan berkembang???

     Mereka, dirimu, aku, dan dia, mempunyai cara yang berbeda dalam mewujudkan rasa syukur kita pada Yang Maha Kuasa. Dia pencipta langit, bumi dan seisinya....Dia Maha Pintar, apapun bentuk dan bagaimanapun cara kita bersyukur, Dia menerima dan Dia tak akan pernah salah. Mari kita bersandar hanya pada Dia, mohon bimbingan Nya agar kita semakin mengenal Dia dan berbakti kepada Nya. Marilah kita jalani kehidupan kita, pekerjaan kita, tugas tugas kita sebagai persembahan hidup kita pada Dia, karena kepadaNyalah kelak kita akan kembali. Dia begitu mengasihi kita. Kasih Nya begitu luar biasa.

     Kita boleh menerima dan merasakan kasih cinta Nya, kita diciptakan menjadi manusia, diberi kesempatan hidup untuk menikmati segala keagungan ciptan Nya, alam semesta yg begitu elok. Diberi cinta dan kasihnya, baik melalui pengalaman iman maupun melalui orang2 terdekat...Terlebih melalui orang tua, saudara, suami, istri, anak2, kekasih dan sahabat. Tiada yang lebih indah dan membahagiakan selain hidup dalam Kasih Tuhan.

     Begitupun aku, ku bersyukur pada Tuhan, aq boleh menerima sapaan Kasih Nya, melalui teman2 ku, keluargaku pada hari ini, hari dimana aq mengingat kembali waktu2 yang telah kulalui, waktu yang penuh dengan suka dan duka, susah senang. Semua aku syukuri, aku ikhlas menerima, karena memang itu sudah tertulis sebagai skenario kehidupan yang harus aku lakoni. Aku bahagia bersama Nya. Satu yg kumohon di hari ultahku ini, semoga Dia berkenan menurunkan Roh Kudus Nya, untuk membimbing aku, agar aku semakin mengenal Dia, berbakti kepada Nya dan aku selalu hidup seturut kehendakNya, krn kepada Nya kelak aku akan kembali. Amin.

Terimakasih untuk teman2ku, saudara2 ku, keluargaku atas perhatiannya, ucapannya, terlebih atas doa2 untukku dihari yang istimewa ini. Semoga kita semua senantiasa dilindungi dan diberikan rahmat kedamaian lahir dan batin. Tuhan memberkati.

Maaf ya, baru bisa bagi bagi gambarnya....hehehehe.
Salam kasih.

Kamis, 22 November 2012

PENGEMIS

     Seperti biasa setiap latihan aku pulang dengan naik taxi. Tapi kemarin sore mbak Tika ada bersamaku naik taxi, karena cuaca hujan. Sesaat waktu kami berhenti di traffic light, sopir taxi nyeletuk:" anak siapaaa itu, disuruh hujan hujanan cari duit??"..... Dengan spontan, aku dan mbak Tika mengikuti arah tangan pak sopir yang menunjuk pada seorang gadis kecil, sekitar 7 th. Rambut dan badannya dibiarkan basah. Gadis kecil itu mendekati pengendara motor sambil menadahkan tangan. Terenyuh hatiku melihat anak itu. Namun karena lampu hijau sudah menyala, anak itu tidak sempat menghampiri taxi kami.

     Dalam perjalanan, kami berbincang tentang pengemis pengemis yang sering kami temui. Aku sendiri pernah melihat hal yang cukup menggelitik pikiranku. Seorang bocah lelaki, kecil...sekitar umur 5 th, dengan koran ditangan, mendekati pengendara sepeda motor, dan tanpa takut meletakkan koran itu di motor orang yang sedang berhenti di traffic light. Pengendara motor itu nampak kaget, dan bertanya"ini apa? untuk apa?' lalu si anak minta uang. tapi pengendara motor tidak mau menerima koran itu. Sesaat pandangan kualihkan ke pinggir jalan...ke trotoar...ada seorang ibu muda, sehat, duduk berhadapan dengan bocah perempuan sekitar 7 tahun. Ibu itu mengenakan jaket, dan menutupi sebagian wajahnya dengan jaket itu. Si bocah perempuan, nampak serius memperhatikan sesuatu dibawah wajah ibu muda yang tertunduk dan sedikit tertutup jaket itu. Ternyata si ibu itu sedang kutak kutik mainan hp.(telepon genggam) wooowww!!

     Mbak Tika pun bercerita, bahwa suatu saat, dia melihat dan memergoki sendiri, bahwa pengemis pengemis itu ada yang mensuplai makanan. Pernah juga memergoki saat pengemis pengemis itu di "drop" di tempat "kerja" mereka. Duh!!
Kata mbak Tika, "makanya pengemisnya gemuk gemuk dik"hehehehehe.....juga disaat jam "istirahat" mereka bisa dengan santai bermain telepon genggam. Pengemis kita ternyata canggih, hehehehe...

     "Itu belum seberapa mbak" kata pak sopir. Coba mbak perhatikan, mereka yang menari di traffic light itu. Penghasilan mereka mengalahkan pegawai lho. Mereka lebih pinter matematikanya daripada kita. Coba hitung saja, berapa kali lampu merah menyala, lamanya berapa detik. Sekali lampu menyala merah, ada yang memberi Rp.500 rupiah saja, sudah berapa per jam, per hari....??
Jadilah kami bertiga ikut ikutan "menghitung"hehehehe... Jumlahnya begitu fantastik.

     Memang jika di kota kota, banyak orang yang mengemis sebagai mata pencaharian, sebagai profesi. Ada yang sahat, ada yang cacat, ada yang pura pura sakit, dll.....Banyak mereka yang memiliki rumah lebih dari layak. Bahkan memiliki kendaraan bermotor. Tapi disisi lain, ada juga orang yang sungguh sungguh kekurangan. Seperti pengalaman beberapa waktu lalu, yang membuat air mataku mengalir.
Waktu kami melewati kota Temanggung, hari sudah larut malam. Karena lelah dan ngantuk, kami putuskan untuk mencari restoran yang masih buka. Sebelum masuk ke restoran, tiba tiba pandanganku menatap sesosok perempuan yang sudah tua, berjarak sekitar 20 m di depanku. Perempuan tua itu sedang membentangkan tikar di depan sebuah ruko yang sudah tutup. Waktu kami keluar dari resto, dan kendaraanku melewati ruko itu, mataku menatap wanita tua itu, dan sepertinya wanita tua itu juga melihatku. Pandangan matanya mengingatkanku pada sosok ibuku yang telah tiada. Rambutnya memutih, memakai baju berlapis lapis, mungkin untuk menahan udara dingin. Dia duduk, disampingnya ada buntelan kain...dia duduk berselonjor.
Pandangan mata wanita tua itu mengingatkanku pada ibuku yang beberapa tahum lalu telah tiada. Air mataku mengalir. Akhirnya aku tidak tahan, putar balik arah aku kembali menghampiri wanita tua itu. Kuulurkan sedikit tanda kasihku padanya. 

     Lain waktu, aku dikirimi foto dari sahabatku...dia sempat memotret seorang lelaki muda yang mengais tempat sampah untuk mencari sisa sisa makan, dan langsung dimakan. Duh!!. Jika kita melihat seperti itu, apa yang kita lakukan?? Cukup memandangnya dengan iba?? Atau berani melakukan sesuatu ??

      Tak akan habis cerita tentang pengemis dinegeriku yang subur ini. Apa penyebabnya??? Harus bagaimana "mendandani"mereka?? Mengubah pola pikir mereka?? Mencegah supaya "penyakit"itu tidak mewabah?? Apa yang salah dengan di negriku ini?? Jawabnya....???
     
    




    


Kamis, 06 September 2012

CINTA YANG TERSIMPAN

     Kuraih ponselku, sesaat setelah terdengar bunyi tanda pesan yang masuk. Ada sebuah pesan dari nomor yang aku belum tau milik siapa. Sms itu menanyakan tentang kabarku. Setelah ku jawab, pengirim sms itu mengirim pesan lagi. " Setelah sekian puluh tahun berlalu, ternyata dirimu tidak berubah, senyumanmu masih seperti dulu. Kemarin pagi aku melihat seorang wanita mengendarai mobil berwarna merah, ditemani seorang anak perempuan. Kamu masih inget aku?? Aku Dwight, temen sekolah SMP dulu."
     Dwight, temen sekolah waktu kecil, dulu dia seorang anak yang cerdas, rajin, tapi galak sekali dengan anak perempuan. Hehehehe....ingatanku sejenak kembali ke masa sekolah itu. bukan kenangan dengan Dwight, karena memang tidak ada hal yang khusus, tapi kenangan pada kenakalan teman sekelasku....kenakalan di jaman itu jauh berbeda dengan kenakalan anak jaman sekarang.
     Pikiranku kembali pada pesan diponselku. Dari pesan yang kubaca, kutemukan jawaban dari seloroh anakku kemarin pagi. Saat itu mobil ku berhenti karena lampu lalin menyala merah. Saat itu gadisku bilang:" ngapa lho bapak2 itu ngelihatin mama seperti orang yang gak pernah lihat orang saja.??" "mana??" sambil menjawab, kuinjak gas karena lampu telah hijau..."tadi, waktu kita berhenti, ada seorang bapak, berdiri dipinggir jalan, pake topi ngelihatin mama sampai segitunya,seperti orang yang gak pernah lihat orang saja"
     Ternyata ungkapan anak gadisku itu, hari ini terjawab sudah. Orang yang memandangiku di traffic lights adalah Dwight, pengirim sms itu. Sejak saat itu, Dwight kadang mengirm kabar tentang pekerjaan dan aktifitasnya. Hanya itu. Tak pernah menyinggung tentang rasa. Sampai pada suatu saat dia telp untuk mengungkapkan semua perasaan yang telah disimpan rapi dilubuk hatinya selama berpuluh tahun. Alasan, kenapa orang seperti Dwight melajang sampai usia hampir setengah abad, padahal dia seorang pria yang tampan, gagah, pintar, dan taat beragama.
     " Cita, sejujurnya sejak kita SMP dulu aku sudah punya rasa sayang pada dirimu. Tapi kita masih kecil, jadi aku tidak berani mengungkapkannya. Apalagi, aku sebagai anak lelaki satu satunya dalam keluargaku, orang tuaku mengharuskan aku untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Aku tidak boleh dekat dengan wanita sebelum kuliah selesai."
      Aku dengar helaan nafasnya yang panjang. " Tata, kau masih mendengarku??" "iya, aku dengerin kok"jawabku.
     "Ta, tau nggak...waktu SMA aku selalu memantau dirimu diam diam. Waktu mulai kuliah, aku tau dirimu bekerja sambil kuliah di Surabaya. Tapi betapa kagetnya aku, setahun dirimu disana, ku dengar kau menikah. Hancur harapanku Ta..kenapa begitu cepat banget sich dirimu menikah?? Hatiku terluka, sedih ... Sejak saat itu aku coba melupakanmu ta, tapi tak pernah bisa.." memang sejak saat itu, aku dekat dengan beberapa wanita..tapi hanya sekedar dekat. Sungguh, aku tidak dapat berpaling dari dirimu. Akhirnya aku fokus pada kuliah. Dan aku bersyukur setelah selesai kuliah, aku dapat pekerjaan yang bagus. Ingatan tentangmu tak pernah hilang. Aku kubur dalam2 rasa cintaku padamu, tanpa ada seorangpun tau, bahkan orang tuakupun tidak. Sampai detik ini, perasaanku tidak berubah Cita. Sekarang semua sudah aku dapatkan Ta...ya kedudukan, ya harta.....semua bisa kudapatkan, kecuali dirimu." Bahkan setelah sekian puluh tahun, keadaan tidak berpihak padaku. Aku tetap tidak bisa menjangkaumu Cita" 
     Kerongkonganku tercekat, dan terasa kering mendengar pengakuannya. Aku tau dia jujur. Dia tidak salah. Aku juga tidak salah. "halooo.....?? Cita.....??" "iya, aku masih dengerin kok" jawabku. Aku jelaskan padanya, perasaannya tidak salah, orang tuanya juga tidak salah. Tidak ada yang salah. Aku mencoba membangunkan kesadarannya, bahwa memang harus begitu lakon kehidupan yang harus diperankan dalam kehidupannya. 
    Aku memang tidak pernah ada perasaan cinta padanya, tapi aku juga tidak bisa tinggal diam melihat penderitaannya. Apalagi, sejak Dwight mengungkapkan isi hatinya, dia tak pernah berkabar lagi, hingga beberapa minggu kemudian, ada seorang anak datang padaku, mengabarkan kalau Dwight sedang terbaring di rumah sakit. Ada masalah dengan jantungnya.
     Aku coba hubungi ponsel Dwight. Tidak diangkat, tapi dijawab dengan sms. Dia minta maaf, apabila apa yang diungkapkan beberapa waktu lalu, membuat aku terganggu. Dia melarangku untuk bezuk di rumahsakit, karena jika melihat diriku, justru akan membuatnya lebih sakit lagi. Aku hanya bilang, ya sudah, aku bantu doa saja. Semoga cepat sembuh.
     Ya Tuhan....ampuni jika karena aku, ada orang yang menderita. 
     Sejak saat itu, aku mendoakan dia secara khusus...agar dia dapat ikhlas melepaskan apa yang menghimpit perasaannya selama ini, agar ikhlas menerima kenyataan ini. Aku doakan agar dia segera bertemu dengan wanita yang menyayangi dia dengan tulus, dan hidup berbahagia bersamanya. 
     Perasaan cinta itu memang anugerah, tapi jika orang yang kita cintai telah mencintai orang lain, dan mereka bahagia karenanya, hendaknya jangan memaksakan cinta. Karena cinta seperti itu bisa saja bentuk dari kekaguman, atau bahkan sekedar hasrat memenuhi ego.
     Doaku mulai terjawab. Dia dipindah tugaskan ke Sydney. Hari ini genap setahun Dwight tugas disana. Harti ini pula, ada seorang utusan ke rumah untuk menyampaikan sebuah undangan perkawinan. Dwight telah menemukan pelabuhan hatinya. Ku buka undangan itu, aku terkejut, melihat foto calon mempelai wanita....mirip banget dengan diriku. Bedanya, warna matanya biru... Tuhan Maha baik, selalu mendengarkan doa doa dari niat yang baik.
Aku ikut bahagia temanku menemukan kebahagiannya.
     Selamat menempuh hidup baru Dwight, semoga kalian bahagia sampai akhir, tak rapuh oleh hujan tak lekang oleh panas...kekal abadi cintakasih kalian. GBU











Rabu, 18 April 2012

R A S T R I

     Puji Tuhan....akhirnya aku sampai di depan rumah peninggalan orang tuaku. Pk.8 pagi aku sudah sampai di Jogja setelah menempuh 3 jam perjalanan dari rumahku. Kumatikan mesin dan ku buka pintu mobilku. Tiba tiba kudengar suara nyaring..melengking...:" aloooo.....aloooo....aloooo...." Aku menoleh kucari arah suara tadi. Aku tersenyum mendapatkan wajah mungil melongok keluar jendela dari rumah tetangga depan rumahku..." aloooo jugaaaaa..... dah mandi belum?? tanyaku" udah." "..udah maem juga' bibir mungil itu menjawab... "Bentar ya....budhe naruh tas dulu...Rastri aja yang main tempat budhe " jawabku sambil mengangkat tas dan masuk ke dalam rumah.

      Masuk rumah, kerinduan menyergapku. Dulu semasa bapak masih hidup, selalu menyapaku: "sama siapa nduk?? Dari Semarang jam berapa??.... Aku termangu di pintu kamar Bapak (alm)... kuhela nafas panjang< masih hangat dalam ingatan saat saat terakhir bersamanya...seratus hari yang lalu serasa baru kemarin... Seketika lamunanku buyar tatkala tangan kecil memegang jariku. Kutatap wajah polos di sampingku...aku tersenyum menatapnya..." Budhe nangis ya?? inget eyang ya??" ku gelengkan kepala sambil berusaha menahan agar airmataku tidak menetes.

      Kuraih tubuh mungil itu, ku gendong ke ruang tamu, dan kupangku dia. Tiap aku menatap wajah itu, aku makin sayang sama dia. RASTRI. Anak yang waktu dalam kandungan tumbuh bersama dengan tumor. Rastir lahir dengan normal dan selamat atas Kebesaran Tuhan.
 
     Setyowati, ibunya, saat mengetahui dirinya terlambat bulan dia memeriksakan diri ke dokter. Hasil lab sungguh mengejutkan, karena selain dia diketahui positif hamil, dalam kandungannya juga ditemukan tumor. Dokter menyarankan agar kandungannya digugurkan saja, daripada nyawanya terancam, dan si calon bayi juga ada kemungkinan cacat.
 
     Sasongko, suaminya menolak dengan tegas saran dari dokter. Sasongko sosok lelaki yang sungguh sungguh menjalankan amanah sebagai bapak yang mengimami keluarga. Dia yakin dengan keputusannya, meski dia tau segala resiko dari keputusannya itu. Setyowati tetap meneruskan mengandung anak ke duanya itu, bersama tumor. Sungguh besar perjuangannya, deritanya tak terungkap kata apa yang dirasakan selama mengandung. Sasongko selalu membesarkan hati istrinya, dan meyakinkannya, bahwa Tuhan pasti akan menjaga dia dan bayi yang dikandungnya. Mereka tak hentinya berdoa, Sholat lima waktu dan tahajud tak pernah lupa. Tak terasa kandungan Setyowati sudah 9 bulan. Dokter menyarankan agar persalinan dilakukan dengan bedah caesar. Kali ini demi keselamatn istri dan bayinya, Sasongko menyetujui saran dokter. Sasongko pasrah...dalam kepasrahannya, dia berdoa dan doanya dikabulkan, anaknya lahir secara normal sebelum operasi dilakukan. Bayi permpuan itu lahir dengan tubuh sempurna, lengkap tak bercacat, wajahnya manis.
     "Budhe..budhe..aku mau minum jeruk" suara Rastri manja. Aku sudah tau apa maksud permintaannya tadi. "hayuuukk"" jawabku sambil kutuntun dia ku ajak kel;uar rumah... Aku antar dia ke rumahnya untuk minta ijin pada ibunya. Segera kuajak Rastri ke Minimarket yang ada. Rastri anak mungil yang manis, tidak nakal, dan keinginannya tidak neko neko. Sampai minimarket, dia hanya mengambil minumal jus jeruk kemasan yang dia suka. Kutawarkan berbagai jajanan kesukaan anak anak pada umumnya, tapi dia menggeleng. Selalu begitu. Kalau aku berhasil membujuk untuk memilih jajanan lain, hanya ice cream, yang lainnya tidak. Aku kagum dengan sikapnya itu. Seorang bocah umur 3 tahun, tapi sudah punya prinsip yang kuat. Meski disodorkan hal hal yang menggiurkan, dia bergeming, tetap pada pendiriannya. Semoga kamu kelak tetap jadi wanita yang punya pendirian teguh ucapku dalam hati.
   
     Bila kuingat keluarga kecil itu, selalu membuatku merenung...Masih adakah Sasongko,Setyowati dan Rastri yang lain saat ini?? Berkeyakinan kuat akan campurtangan Tuhan dalam setiap permasalahan hidup?? Bertekun dalam doa?? Yang sabar dalam kesusahan ??Yang teguh dalam pendirian akan kebenaran???

       Namun apa yang aku saksikan di jaman sekarang, membuat aku menarik nafas yang panjang. Begitu banyaknya orang orang yang menghalalkan segala cara untuk mengejar ambisinya. Main hakim sendiri, cari keuntungan diri.tidak rela melihat orang lain melebihi dirinya...Serakah.!!Yang lebih parah lagi, banyak yang "Jarkoni"( isa ujar ora nglakoni.) Bahkan apa yang terucap tidak sama denga isi hati yang sesungguhnya. Musang berbulu domba dll. Kejujuran sudah jadi hal yang langka.

     Semoga sifat Sasongko,Setyowati dan Rastri masih ada di hati setiap insan. Berserah dalam keyakinan pada Tuhan, dalam kepasrahan yang berpengharapan. Hidup seturut kehendak Nya. Semoga.
 

Senin, 16 Januari 2012

KUPEGANG PESAN ITU

     Suatu senja di suatu hari di akhir Juli 2003,  kau duduk memandang jauh....mungkin kau mengenangkan kembali saat saat manis dan pahit hidup bersamanya.... Dia yang telah lebih dari 50 tahun mendampingimu...melahirkan kami, anak anakmu..." hayooo...bapak melamun ya??" kau hanya menjawab dengan senyuman....kulihat guratan sedih di dahimu yang sudah keriput oleh waktu.
     Tiba -tiba seekor tekukur hinggap di pundakmu. Tekukur tak hendak pergi walaupun kau berusaha menghalaunya.. Tekukur jadi teman yang setia menghibur dengan nyanyiannya tiap kali kami sowan padamu. Hari berganti minggu...minggu berganti bulan, dan tahun... Dalam kesendirian kau jalani hari demi hari, karena kau ,memilih tinggal sendiri di rumah yang penuh kenangan bersamanya. Tubuhmu semakin tua dan renta. kami putra putrimu ingin sekali engkau tinggal bersama kami, tapi kau memilih tetap tinggal di rumah yang telah mengukir lembaran hidupmu dengan lukisan kenangan penuh warna. 
     Tiap kami pulang menengokmu, selalu saja ada cerita darimu..cerita tentang kebijaksanaan, tentang kemurahan hati, tentang segala hal yang kau alami juga tentang orang orang yang sering menemanimu. tak pernah terucap keluhan darimu...bahkan saat pandanganmu mulai kabur karena katarak,kau tak mengeluh... 
     Suatu hari ku pulang menengok bapak...."nduk, kemarin bapak dapat kiriman rantang dari budemu, ada gorengan yang bapak sisihkan, pikir bapak bisa untuk makan sore, bapak pikir itu empal goreng, tp waktu bapak makan, ternyata ubi goremg...oalaahhh..mata kalau sdh tua .."" bapak bercerita sambil terkekeh ingat kejadian kemarin.. Aku ikut tersenyum, tapi hatiku berdesir...aku tau bapak butuh operasi katarak, tapi saat itu aku belum bisa berbuat apa apa. Tapi aku mulai memikirkannya.
     Minggu berikutnya saat aku pulang, bapak bercerita lagi....masih tentang matanya.... "bapak kemarin marah marah sendiri...bapak jengkel dengan diri sendiri!! kenapa mau makan saja kok gak bisa nyendok nasi dari piring?? tapi setelah sendok tak balik, bapak jadi tertawa sendiri sampai keluar air mata setelah bapak tau, kalau bapak nyendok nasinya pake punggung sendok!!hahaha" ....kali ini aku ikut tertawa... Aku matur bapak.. "Bapak kersa operasi katarak??" bapak bersedia.. Akhirnya bapak menjalani operasi katarak didampingi kakakku. Bapak begitu bahagia, senang dapat memandang anak cucunya dengan jelas saat kami pulang mengunjungi beliau.
     " Lho...bapak kok merokok lagi??" tanyaku kaget saat aku pulang, ketemui bapak sedang merokok, padahal sudah beberapa waktu tidak merokok...." lha bapak pikir, dapur itu tempat api, atapnya kena asap terus, tapi malah gak gampang lapuk !"....jawab bapakku sambil tersenyum...ahhh, bapak, selalu saja menghadapi segala sesuatu dengan canda....
    Banyak kenangan lucu bersamamu bapak...tapi semua itu tinggal kenangan. Awal Nopember 2011 ku dapat telp dari Arif anak yu Poni yang ngabdi bapak, bahwa bapak sakit. Segera aku pulang, kubawa bapakku ke RS.Bapak menjalani rawat inap 8 hari... tapi awal Desember anfal lagi, dan menjalani rawat inap di rumah sakit. Saat sakit, bapak sering bilang bahwa almahumah ibu sudah menjemputnya..... tapi bapak punya suatu harapan. Bapak mengharapkan, kelak aku mau tinggal di rumah dulu aku dibesarkan... Aku tidak mau mengecewakan bapak, kuturuti dan kuwujudkan harapan bapak padaku. Saat bapak melihat, bahwa aku sedang mewujudkan harapannya, beliau terlihat bahagia.... " bapak sekarang sudah lega..sudah tidak ada beban, sekarang tinggal nunggu saatnya saja'....hatiku tercekat mendengar perkataannya..inikah saat saat terakhir kami bersama di dunia ini??..." Semua Tuhan yang mengatur pak" jawabku sambil kupalingkan wajah agar air mataku tidak tumpah...
     Rabu. 28 Desember 2011 pagi...dalam tidur bapak sebut sebut namaku 3 kali...kujawab dan kubisikkan, bahwa aku selalu disisinya, menungguinya... bapak kembali tenang, tapi hari itu bapak sudah tidak mau diajak komunikasi. Malam hari, bapak mendatangiku dalam mimpi, "nduk, kalau kamu ada apa apa, kamu matur bapak saja!!.pokoknya, kalau ada apa-apa bilang saja sama bapak!!"..aku terbangun...pesan itu terngiang jelas ditelingaku...aku berdoa, bersyukur aku boleh mendapatkan pesan dari bapak..aku dapat firasat, bapak akan meninggalkan aku untuk selamanya. Jumat, 30 Desember 2011, pukul 12.30 bapak meninggalkan kami untuk selamanya, bersama ibu yang menjemputnya kembali kepada Tuhan. Selamat jalan Bapak, terimakasih telah menjadi bapak yang baik bagi kami, terimakasih kau tetap menjadi pelindungku untuk selamanya, sesuai pesanmu.. aku akan tetap pegang pesanmu dan aku akan berusaha untuk memenuhi harapanmu padaku. Tuhan, ampuni dosa bapakku dan ibuku yang telah kembali kepadaMu.. berikanlah kebahagiaan kekal bagi mereka. Amin.
     Ada hal yang menyentuh hati kami...bersamaan dengan kepulangan bapakku kembali padaNYA, burung tekukur yang dulu hinggap dipundak bapak, yang setia menemani 9 tahun lebih, pada waktu dan hari yang sama ikut mati tanpa sebab. Sungguh sebuah pembelajaran indah tentang sebuah kesetiaan. 

Senin, 05 Desember 2011

METAMORFOSE

                                                                 METAMORFOSIS
          " Ma....binatang yang bisa berubah bentuk itu apa sich...???" tanya Beny pada mamanya saat dia belajar IPA untuk menghadapi ulangan umum sekolahnya. " itu kupu-kupu sayang" Lanny menjawab pertanyaan putranya. Lanny mengajak putranya ke halaman rumah yg ditanami tanaman hias aneka jenis dan warnanya. " kamu lihat ulat itu" seraya menunjuk seekor ulat yang asyik memakan daun..."ulat itu akan makan daun sampai kenyang, kemudian dia akan diam bertapa....selama bertapa, dia tdk makan apapun dan diam tidak bergerak sama sekali....tubuhnya terbungkus berbentuk kepompong".... Lanny menunjukkan kepompong yang menggantung diujung sebuah ranting kecil.... Beny sangat antusias mendengarkan penjelasan ibunya...dan memperhatikan ulat dan kepompong yang ditujnjukkan ibunya...." setelah bertapa beberapa hari, kepompong itu akan berubah bentuk...menjadi kupu kupu yang indah..." kata Lanny seraya menggandeng tangan putranya kembali ke dalam rumah...
            Manusia diberi kesempatan hidup di dunia karena manusia diberi kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Semua di dunia diberikan untuk manusia agar memuliakan Dia Sang Pemberi Kehidupan....Manusia hidup memerlukan pangan ,sandang, papan dan lainnya. Manusia bekerja untuk memenuhi segala kebutuhannya.... Tapi manusia harus mengerti apa tujuan hidupnya.... Seperti ulat yang bijak tau, dia harus makan supaya cukup bekal untuk bertapa jadi kepompong agar bisa menjadi kupu-kupu yang indah.... Ulat yang bijak hanya akan makan se"cukup"nya saja...jika ulat terlalu banyak makan, badannya akan terlalu gendut, dan itu akan membuatnya mudah jatuh dari atas daun, dan terinjak...atau jadi santapan seekor ayam....
           Manusia yang terlena mengejar kepuasan.....harta.....kedudukan.....kehormatan....seperti ulat gendut yang tak akan pernah menjadi kupu kupu... Semua yang dilakukan, dilakukan dengan penuh perhitungan untung rugi...berpengaruh pada kesuksesannya atau tidak..... berwatak "adigang, adigung adiguna. 
           Memang manusia perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya...tapi hendaknya juga berkarya untuk sesama tanpa harus menjadi lekat dengan apa yang ada pada dirinya dan yang dilakukannya... Manusia "kepompong' dia akan "rame ing gawe, sepi ing pamrih"..segala yang dilakukannya dilandasi oleh kasih...tulus...tanpa pamrih...dan rendah hati...
            Saat ulat menjadi kepompong, dia harus bertahan dari angin dan hujan...tapi dia yakin, suatu hari sayapnya akan tumbuh dan terkembang dengan indah... Sayap yang mampu membawanya melihat keindahan bunga...menari nari di udara untuk hinggap dan menghisap manis madunya kehidupan...untuk kemudian moksa..
           Lanny tercenung....dia mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari pertanyaan putranya. belajar seperti ulat yang berani bermetamorfose untuk sebuah tujuan hidup yang indah. Berbagai pertanyaan muncul dibenak Lanny. Dia mulai mengoreksi batinnya. Sebagai seorang istri, sudahkah dia berbakti pada suami?? berbakti dalam arti tidak terlalu menuntut...dan berusaha mencukupkan dengan penghasilan yang ada?? Sebagai seorang ibu, sudahkah dia membimbing dan memberi pengertian putranya bagaimana menjalani hidup ini..???
           Semoga banyak Lanny dan Benny lainnya bisa memetik pelajaran hidup dari ulat yang bermetamorfose menjadi kupu kupu....menjalani hidup dengan berani berkata dan bersikap"cukup" untuk hal hal yang negativ, yang tidak baik, yang dapat membuat hidupnya tersesat, yang merugikan dan menyakitkan orang lain untuk "MAU" bermetamorfose"BERUBAH" untuk hidup dangan hati yang bersih... tulus dan ikhlas menjalani lakon hidupnya.......****Semoga... ***~*~Tuhan Memberkati~*~
          




Selasa, 03 Mei 2011

Dia Sungguh Menyentuhku

     Beberapa minggu sebelum masa prapaskah tahun ini, aku mulai mengalami hal ini....Mungkin bagi sebagian orang, pengalamanku ini sebuah hal yang biasa, mungkin juga ada yang berpendapat terlalu sentimentil. Aku tak peduli apapun pendapat orang. Aku sangat mensyukuri apa yang kualami dan hal ini semakin menambah keyakinanku akan Dia.....bahwa Dia sungguh nyata dan sangat mencintai aku.
     Seperti biasa hari Minggu itu kami, (aku,suami dan anakku) ke gereja untuk mengikuti misa. Kami menempati deretan bangku yang agak di belakang. Kuikuti perayaan Misa dengan sepenuh hatiku. Pada saat kami memuliakan Dia dengan madah "Kemuliaan", tiba tiba sesaat aku mencium aroma anggur....tipis.....namun saat Konsekrasi, kembali tercium olehku aroma anggur yang kuat, padahal kami jauh dari altar... Saat itu aku sungguh merasakan Dia hadir dalam Ekaristi tersebut. Aku merasakan sesuatu di hatiku yang tak dapat kuungkapkan dengan kata kata. Aku sangat bersyukur, dan aku merasa imanku semakin dikuatkan.
     Minggu masa prapaskah, aku tidak ingat minggu ke berapa....sewaktu mengikuti misa, kembali aku menerima SapaanNYA.....begitu dekat...menyentuh lembut panca indraku...Sesaat menjelang konsekrasi, aku mencium aroma ratus pedupaan...padahal saat itu tidak ada pendupaan. Hatiku merasakan sesuatu yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata....rasa itu menelusuri relung palung hati ku yang paling dalam.....ada haru  di sana....Aku semakin hanyut dalam penghayatan konsekrasi, seakan kusaksikan kembali saat saat Tuhan Yesus mengadakan perjamuan terakhir. Pudji Tuhan...syukur PadaMu karena cinta MU yang amat luas tak terbatas.... Engkau sungguh nyata...cinta Mu sungguh besar kapadaku yang lemah dan berdosa ini...
     Hari-hari semakin dekat dengan pekan suci.... Aku menyadari, masih sangat kurang kesiapanku untuk menyambutnya. Aku belum memanfaatkan waktu yang ada sebaik baiknya...Waktu 40 hari, rasanya belum cukup bagiku untuk melakukan pertobatan. Dengan segala ketrbatasan dan kekuranganku, aku menyambut pekan suci tahun ini. Minggu Palma berlalu dengan segala kemeriahannya.... Kamis Putih kuikuti dengan penuh penghayatan, tapi aku tidak bisa mengikuti tuguran, walaupun aku sangat ingin...
      Tibalah saatnya Ibadat Jumat Agung, saat kita merenungkan kembali saat-saat Yesus menderita yang amat sangat...!! Menderita karena dosa-dosa manusia, termasuk dosa-dosaku......Ampuni aku Tuhan..... Ibadat Jumat Agung, sungguh ibadat yang sangat agung. Saat penghormatan salib adalah saat yang begitu mengiris perasaanku... Aku tak bisa membayangkan betapa hebatnya derita yang harus Dia tanggung... Hatiku semakin terenyuh.... Setelah penghormatan salib, kupersiapkan hati untuk menerima komuni.... Ya Tuhan, Tuhan tidak pantas datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh....
     Kulangkahkan kaki, selangkah demi selangkah untuk menyambut NYA....Saat kubersujud untuk bersyukur, kembali Engkau menyapaku...tidak hanya menyapa, tapi Engkau sungguh nyata...ada....Saat itu aku bersujud dengan mata terpejam, baru kuucap dalam hati "trimakasih Tuhan".....tiba tiba aku seperti melihat potongan sebuah film yang membuat aku tercekat tak mampu berucap sepatah katapun.... Aku melihat diriku sendiri bersujud di depan Tuhan Yesus yang juga sedang dalam posisi duduk, berjubah putih dengan rambut berjuntai, sebagian menutup wajah NYA.... Hatiku begitu mengharubiru....aku merasakn cintaku pada NYA yang begitu kuat....kuulurkan tanganku untuk menyentuh Wajah NYa dengan sehelai kain putih ditanganku....air matakumengalir deras....batinku hanya mampu berucap Yesus.... Yesus ...Yesus.....
     Tiba- tiba kutersadar, karena suara anakku Satria yang bertanya pada suamiku, kenapa aku menangis... Terimakasih Tuhan, segala pujian bagi Mu..... Sungguh aku bersyukur, aku yang lemah dan berdosa ini, boleh menerima karunia Mu yang besar.... Sungguh cinta Nya begitu besar kepadaku, dan aku semakin mencintai Nya....Ternyata "hadiah" untukku belum cukup.Kembali aku menerima sentuhan Nya saat aku mengikuti Misa malam Paskah, malam penantian dalam menyambut kebangkitan Nya... Sama seperti waktu ibadat Jumat Agung.... Setelah aku menyambut roti komuni sebagai perwujudan dari Tubuh dan Darah Nya, aku bersuju, bersyukur... saat itulah kembali aku merasakan sentuhanya berupa hembusan angin nan lembut, sejuk menerpa wajahku.... Aku merasakan kedamaian yang sangat... Terimakasih Tuhan....Engkau sungguh mencintaiku...menyentuhku secara nyata melalui panca indraku.... Dia sungguh menyentuhku....
     Tuhan ada diantara kita... Dia menyentuh kita masing- masing dengan cara yang berbeda.... yakinlah Dia sangat mencintai kita, dengan cinta Nya yang luar biasa...tak terbatas.... Semoga iman kita semakin dikuatkan, dan senantiasa berusaha untuk tidak menambah beban penderitaan Nya... Tuhan memberkati.
 


     
     

Selasa, 22 Februari 2011

Sang Ratu

     Peran serta wanita di jaman sekarang, sangatlah berbeda sekali dengan jaman dahulu. Banyak remaja, gadis, wanita pekerja, sampai ibu rumah tangga dapat mempunyai segudang kegiatan, entah itu positif maupun negatif, tergantung pemilihan jalan hidup yang mereka putuskan. Mengupas kehidupan wanita tidaklah mudah. Bagai mengupas bawang bombay, semakin dikupas selapis, ada lapisan berikutnya, begitu seterusnya.
     Satu yang sama diantara semua wanita, yaitu ingin selalu cantik dan awet muda. Banyak cara mereka tempuh untuk mendapatkannya. baik dengan cara modern maupun dengan cara tradisional. Bagi mereka yang tinggal di perkotaan, dan cukup mampu, mereka akan menggunakan cara modern yang banyak ditawarkan klinik kecantikan yang ada. Bagi mereka yang kurang mampu, mereka akan mencari cara yang lebih murah, yang terjangkau kantong mereka.
     Mereka kadang terobsesi dengan keinginan memiliki wajah , bentuk tuduh dan kulit yang sempurna menurut ukuran mereka. Bahkan demi semua yang bersifat jasmani itu, mereka rela melakukan apa saja agar bisa mendapatkan cukup uang untuk memenuhi obsesinyanya.Kadang mereka melupakan hal yang lebih penting dari semua itu. Kesempurnaan seorang wanita, tidak hanya pada kesempurnaan fisik mereka, tapi bagaimana dia mampu menjadi Ratu dalam kehidupan ini.
     Seorang ratu, selain memiliki kecantikan jasmani, dia juga harus mampu menjadi 'ratu' dalam hal yang lebih luas.Ratu harus mampu menjadi seorang kekasih bagi Raja, yang dapat mengisi hari - hari sang raja, yang selalu ada disaat raja membutuhkan, dan dapat membuat Raja bahagia. Seorang kekasih yang setia dalam untung dan malang. Ratu juga mampu menempatkan diri sebagai Permaisuri bagi raja. Tidak hanya indah untuk dipajang sebagai pelengkap, namun dapat sejajar, menyumbangkan pemikiran - pemikiran positif dan solusi untuk permasalahan yang dihadapi raja. Dapat saling asah, asih dan asuh. Di saat raja berhalangan, dia harus mumpuni mengambil alih peran Raja, namun tetap menghargai dan menghormati raja. Saat tertentu, Ratu pun harus mampu berperan sebagai seorang ibu bagi sang raja. Mampu menyejukkan dan menenangkan bilamana Raja sedang gelisah.
     Pada dasarnya, tiap insan, siapapun itu, berapapun usianya, senantiasa merindukan belaian kasih seorang ibu, belaian yang penuh kasih dan kelembutan. Belaian seorang ibu, mampu menyejukan dan meneduhkan hati yang gelisah. Seorang Ratu, yang baik, pandai dan bijaksana namun tetap rendah hati, akan mampu menjadi ibu yang sempurna bagi anak anak yang dititipkan Tuhan, yang lahir dari rahimnya yang suci. Dan anak anaknyapun menjadi anak anak yang diberkati, hidup dengan baik yang kelak dewasa mampu jadi penerus bangsa. Sungguh tidak mudah untuk menjadi seorang 'Ratu'.
    Wanita jaman sekarang banyak yang ingin seperti ratu. .Ratu yang memiliki wajah jelita, dengan kulit dan bentuk badan yang nyaris sempurna, plus pintar dalam ilmu pengetahuan.
     Dengan kemolekan wajah dan tubuhnya, berusaha meraih kebahagiaan sempurna, hidup berkecukupan dan terkenal, walaupun kadang dengan menempuh cara yang sesat, merendahkan diri dan harkatnya sebagai wanita. Wanita seperti ini biasanya suka menempuh jalan pintas untuk mencapai tujuannya.Membuat sensasi sensasi murah untuk mendongkrak popularitas. Kalau jaman dulu, mungkin yang disebut tledhek !!
     Ada juga yang dengan kepandaiannya, wanita mampu meniti karier dengan baik, mempunyai penghasilan yang lebih. Yang kadang justru membuat dia kurang menghormati lelaki. Bahkan ada yang mampu 'membeli 'lelaki untuk kesenangan mereka. Byuuuhh....!!!
       Masih ada lagi wanita - wanita masa kini yang mempunyai kehidupan dan cara hidup yang sungguh jauh dari sikap seorang ratu yang sungguh - sungguh 'Ratu'.... Bagaimana dengan anda..?? Mau pilih jadi wanita luhur jaman dahulu, yang pinter ngadi busono, ngadi  saliro, tansah ngudi kamulyan ( pinter dalam berpenampilan, menjaga kesucian diri, dan selalu mengusahakan hal- hal yang mulia) atau menjadi wanita modern yang kadang lupa adi kodrati... Pilihan ada ditanganmu...
  

Yu Poni

     Pagi itu Yu Poni tetanggaku kelihatan kusut.!1 Rambutnya yang memutih dibiarkan awut awutan. Uban yang mestinya belum saatnya tumbuh diusianya yang masih relatif muda. Entah karena pikirannya yang terlalu menanggung beban hidup yang begitu berat, atau karena bahan kimia dalam shampoo yang digunakan, telah membuat rambut yu Poni yang bergelombang itu lebih dari separuh memutih.
     " Ada apa to yu...??' tanyaku.... "Mboh ki mbak, mumet tenan sirahku..."( Gak tau nih mbak, kepalaku pusing sekali )...jawab yu Poni langsung duduk di depanku yang sedang meracik bumbu di dapur. Kulhat wajahnya benar -benar kucel..kusut..."Ada apa to? tentang kang Ponidi??" Tanyaku. Dia mengangguk....
Pagi itu, aku dengarkan cerita Yu Poni dengan penuh keprihatina, tapi aku tidak bisa berbuat banyak untuk ketidak adilan yang dialaminya.
     Malam itu memang ada pertemuan beberapa orang di rumah Pak Samin, untuk merembug permasalahan kang Ponidi. Tentu saja yu Poni dan kang Ponidi hadir di situ.... Yu Poni pada awalnya tidak tau, kenapa dia juga ikut 'dipanggil'... Entah siapa yang lapor pada siapa, yu Poni juga tidak tau. Yu Poni yang makan bangku sekolah cuma sampai kelas 5 SD,sama sekali tidak mengerti, kenapa dalam pertemuan itu, justru dia yang disalahkan dan dipojokkan.
     Dalam pertemuan itu, hadir juga Menik. Seperti namanya, wanita desa itu memiliki wajah yang imut, kulitnya bersih, putih, tidak seperti wanita desa kebanyakkan. Menik mempunyai suami Sarman. Suaminya tidak punya pekerjaan, kadang pergi berbulan-bulan, tapi setiap pulang hanya untuk meminta uang atau menjual apa saja yang bisa dijadikan uang Harta warisan peninggalan orang tua Menik pun habis dijual oleh Sarman.
     Entah siapa yang mulai, diam diam Ponidi sering menyambangi Menik. Sepertinya Menik menikmati perhatian Ponidi. Entah apa yang ada di benak Menik, sampai sampai dia mau berhubungan dengan Ponidi. Padahal, Ponidi bukanlah lelaki berduit, dan dia tidak lebih baik dari Sarman. Pekerjaannya juga serabutan, kalau dapat sedikit uang saja, habis untuk beli rokok dan kesenangannya sendiri.
     Yu Poni, wanita yang kuat, baik fisik maupun mentalnya. Tiga anak laki laki, telah dilahirkannya ke muka bumi. Tiap hari selalu bekerja keras. Buruh tandur ( menanam padi ), membantu orang hajatan, mencari makanan buat ternak kambingnya, mengumpulkan batu di kali dan sebagainya... yang penting bagi diam bagaimana bisa mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup bersama anak anaknya. Anak anaknya cukup tau diri dengan keadaan orang tuanya. Dia sangat tegar menghadapi suaminya yang kurang bertanggung jawab, dia tak pernah menuntut ataupun protes...
     Pagi itu, ketegaran dan kekuatan yang ada pada yu Poni luruh.... Dia merasa tidak melaporkan pada siapapun masalah skandal suaminya dengan Menik yang sudah jadi rahasia umum. Selama ini dia tidak peduli bagaimana kelakuan suaminya itu.Yang membuat hati yu Poni hancur, remuk,.dan merasa diperlakukan tidak adil justrru pada saat pertemuan itu, dirnya yang dipersalahkan oleh orang orang terpandang itu...!!! Dia dituduh menyebarkan fitnah pada Menik....!!! Menyebar gosip, bahwa Menik telah menggoda suaminya...!! Dia tidak diberi kesempatan membela diri dan tak ada yang memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan!! Mendengar cerita yu Poni, aku hanya bisa mengurut dada, dan menyebut duh Gusti.....
     Aku tak dapat memberi solusi pada masalah yu Poni..... aku tau persis, dia bukan wanita yang sering main ke tetangga untuk sekedar ngerumpi seperti kebanyakan wanita yang malas, waktunya habis untuk bekerja, bekerja, dan bekerja... bahkan untuk merawat badan dan wajahnyapun tak sempat ia lakukan. Aku hanya  dapat menghiburnya.....untuk sabar dan pasrah dalam ketakberdayaan menjalani lakon hidup yang harus dijalani.....
     Yu Poni tetap menjalani hari- hari nya seperti biasa, meskipun luka dihatinya masih perih. Dia yakin luka itu akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Dia yakin ada penyembuh yang Ilahi. Dan dia selalu yakin, selalu ada hikmah dan rencana Tuhan yang indah dibalik kepahitan hidup yang dialaminya. Satu yang dia minta pada Sang Pengatur Kehidupan, dia berharap kelak anak-anaknya beroleh kehidupan yang lebih baik. Dia rela mengorbankan kebahagiaannya demi masa depan anak- anaknya. Dia akan terus berjuang, berjuang dan berjuang untuk buah hatinya...
  

Sabtu, 19 Februari 2011

Tiwul

     Tiwul itu nama panggilanku. Menurut cerita para tua, nama itu diberikan padaku sebagai peringatan, betapa waktu aku lahir, keadaan  ekonomi orang tuaku sangatlah memprihatinkan. Sebagai adat di desa, jika ada seorang bayi lahir, maka setiap malam pasti ada para tamu yang melek di rumah keluarga yang baru saja mendapatkan anggota baru. Makanan tiwul itulah yang disuguhkan pada para tamu yang melek setelah kelahiranku.
     Meski aku lahir sebagai anak ke tiga, dari empat orang yang semuanya perempuan, namun butuh perjuangan berat bagi ibuku waktu proses melahirkan aku. Entah karena sebab itu, atau sebab yang lain aku tak tau. Tapi sungguh, aku merasa sangat berbeda dari saudara saudaraku. Bukan karena tak ada kemiripan aku dengan mereka,tapi perlakuan ibuku padaku juga sangat berbeda.
     " Wah, Bu....kok putrinya yang ini beda sekali?? buat saya saja ya?" Boleh ditukar apa saja, saya bersedia".... Seringkali, tiap aku dan ibuku bertemu dengan orang yang tidak dikaruniai anak perempuan atau yang tidak dikaruniai anak, pasti diriku di goda, dicubit lembut pipiku. Di salah satu sisi, aku begitu menggemaskan bagi orang lain, tapi dimata keluargaku, kecuali ayahku, aku seperti anak pungut yang layak diperlakukan berbeda dangan saudaraku yang lain....
     Kuingat, sejak kelas 3 Sekolah Dasar,hampir tiap hari ada yang salah pada diriku di mata ibuku atau saudara saudaraku.... Aku sering didiamkan oleh ibuku, yang kadang aku tidak tau dimana letak kesalahanku.. Begitu juga dengan kakak-kakakku... Jika ke sekolah aku kelupaan membawa PR, salain menegurku, guruku juga menegur kakakku supaya membimbing aku, dan itu akan membuat mereka marah padaku. aku tak punya tempat mengadu... Entah kekuatan dari mana aku tidak tau... Tiap aku kena marah atau bersedih, aku langsung masuk kamar, berdoa dengan caraku sendiri mengadu pada Tuhan......
     Waktu terus bergulir, aku tumbuh jadi gadis yang minder, pemalu dan kurang percaya diri. Tapi aku cukup mandiri untuk melakukan sesuatu yang kuanggap benar. Sering sepulang sekolah, setelah menyelesaikan tugas sekolah, aku bermain ke rumah tetangga....mengamati, mencoba dan membantu pekerjaan yang mereka lakukan. Dari mereka aku banyak balajar, bagaimana memintal benang, ngeklos benang dengan kleting, serta menenun setagen. Mereka baik hati memberi kesempatanku belajar. Tak jarang bila mereka panen hasil ladang aku membantunya. Pada awalnya mereka keberatan, tapi setelah mendengar penjelasanku, mereka dengan senang hati mengajariku...
     Meski di rumah aku dipanggil Tiwul, tapi tetanggaku dan orang- orang yang tau siapa orang tuaku, mereka memanggilku Mas Roro. Walaupun aku masih kecil, tapi mereka berbicara padaku dengan bahasa Jawa yang halus. Saat itu aku tidak peduli dengan sebutan Mas Roro, dan perlakuan mereka yang sangat sopan padaku, tapi aku selalu menghormati mereka apalagi yang sudah sepuh, aku sangat menghormatinya. Siapapun itu.!!Bagiku, orang yang sepuh, doa dan restunya lebih baik. Dari mereka juga aku banyak belajar bagaimana menghadapi hidup ini. Aku sering mengamati mereka. Mereka sungguh bisa jadi panutan, baik tutur maupun tingkah lakunya.
     Sungguh berbeda dengan orang tua dan para sepuh jaman sekarang. Jika jaman dulu ada istilah Anak polah bapa kepradah, sekarang terbalik, bapa polah, anak kepradah.... Aku, Tiwul, bersyukur pada Tuhan yang setia menjagaku, aku tidak protes atau dendam pada masa kecilku yang pahit, tapi aku sungguh bersyukur memperoleh gemblengan yang membuat jiwaku lebih tangguh dan membuatku tegar dalam menghadapi gelombang kehidupan ini.
     Kini aku dan suamiku bahagia dengan dua anak angkat kami yang kudidik dengan adil dan penuh kasih sayang. Aku selalu memberikan apa yang dulu tak pernah ku peroleh dari orang tuaku. Kasih sayang dan perhatian yang tidak pilih kasih.
     Jika kita menghadapi kepahitan hidup, bersandarlah kepadaNYA, sabar menjalani ujianNYA, belajarlah pada kehidupan itu sendriri, karena sesuatu itu akan indah pada waktunya.